JEMARI Sakato

collapse

JEMARI Sakato Lakukan Pendataan WGQ pada Empat Desa Dampingan

2026-07-23  JEMARI Sakato  176 views

jemarisakato.org, Kabupaten Kepulauan Mentawai – Pembangunan yang inklusif tidak dapat dilepaskan dari ketersediaan data yang akurat, tetapi dapat menyasar seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Bagi JEMARI Sakato, pendataan bukan sekadar memenuhi kebutuhan administratif, melainkan menjadi dasar dalam merancang intervensi program yang tepat sasaran, responsif, dan berbasis bukti. Prinsip ini sejalan dengan kompetensi lembaga dalam  melakukan riset aksi dan fasilitasi untuk mewujudkan tata kelola pemerintah yang lebih baik.  

Komitmen tersebut diwujudkan dalam pelaksanaan pendataan kelompok berisiko menggunakan metode Washington Group Questions (WGQ) di empat desa dampingan Program GREAT Mentawai. Pendataan ini menjadi tindak lanjut setelah dilakukan  serangkaian koordinasi antara JEMARI Sakato, Forum Disabilitas Kabupaten Kepulauan Mentawai, pemerintah daerah serta organisasi masyarakat sipil untuk memperkuat ketersediaan data penyandang disabilitas yang lebih akurat dan terintegrasi.  

Sebelumnya, kader desa telah mengikuti  Capacity Building Washington Group Questions (WGQ)  sebagai bekal dalam melakukan pendataan tingkat masyarakat. Melalui pelatihan tersebut, kader mampu memahami mengenai teknik wawancara, etika pendataan, kuesioner yang akan diajukan, serta instrumen WGQ yang akan digunakan untuk mengidentifikasi hambatan fungsional yang dialami masyarakat.  

Pendataan ini diperlukan untuk memahami dan mengetahui ragam hambatan fungsional yang dialami, kebutuhan terhadap dukungan, serta tingkat partisipasi mereka dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan pembangunan. Selama ini, pendataan penyandang disabilitas umumnya masih berfokus pada kondisi medis atau jenis disabilitas, sehingga belum sepenuhnya mampu menggambarkan hambatan yang dialami seseorang dalam menjalankan aktivitas sehari-hari maupun berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.  

Washington Group Questions (WGQ) menjadi salah satu instrumen yang diakui secara internasional untuk mengidentifikasi hambatan fungsional secara sederhana dan objektif. Instrumen ini mengukur tingkat kesulitan seseorang pada enam domain utama kehidupan, seperti melihat, mendengar, berjalan, mengingat atau berkonsentrasi, merawat diri, dan berkomunikasi. Pendekatan ini mampu memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai hambatan yang dihadapi seseorang dalam berpartisipasi secara penuh di masyarakat.  

Sebelum turun ke lapangan, kader desa kembali mengikuti sesi penyegaran bersama fasilitator GREAT Mentawai pada awal Juli. Kegiatan ini difokuskan pada pemahaman instrumen pendataan, simulasi wawancara, serta penyusunan strategi pelaksanaan survei di masing-masing desa.  

Berbekal data pilah yang telah dimiliki pemerintah desa, para calon enumerator bersama fasilitator melakukan identifikasi lokasi kelompok berisiko pada peta desa. Apabila ditemukan perubahan kondisi maupun informasi terbaru di lapangan, data tersebut didiskusikan dan diperbarui secara bersama sebelum menjadi acuan dalam pelaksanaan pendataan. Sehingga, data pilah yang sudah dimiliki akan difinalisasi secara bersama oleh kader masing-masing desa sebagai acuan dalam melakukan pendataan WGQ.  

Sebagai bagian dari penguatan kapasitas, kader juga mengikuti pre-test untuk mengukur pemahaman awal terhadap instrumen WGQ dan prosedur pendataan. Selain itu, fasilitator JEMARI Sakato juga memperkenalkan aplikasi KoboCollect, sebuah platform digital yang digunakan untuk mengumpulkan data di lapangan secara cepat, akurat, dan efisien.  

Penggunaan aplikasi ini dipilih karena mudah digunakan untuk survei lapangan secara offline maupun online untuk mengumpulkan data. Aplikasi ini juga memungkinkan untuk mengunduh kuesioner, menyimpan respons, mengambil foto, serta mengirimkan data secara otomatis kepada server.  Sebagai proses uji coba lapangan, enumerator melakukan pendataan pada 20 rumah tangga di Desa Sipora Jaya. Uji coba ini bertujuan untuk mempraktikkan secara langsung aplikasi dan memvalidasi pertanyaan yang akan diajukan.  

Selama pekan pertama Juli, para enumerator desa mulai melakukan pendataan kepada masyarakat sasaran di empat desa dampingan Program GREAT Mentawai. Sebanyak 469 responden telah berhasil diidentifikasi dengan rincian: Desa Sipora Jaya 137 responden, Desa Sidomakmur 104 responden, Desa Matobe 107 responden, dan Desa Sioban 121 responden. Berdasarkan hasil pendataan WGQ yang sudah dilakukan, responden dominan yang didata berasal dari lansia, kepala keluarga perempuan, dan penyandang disabilitas. Responden penyandang disabilitas berjumlah 57 orang dengan hambatan fisik.  

Melalui pendataan WGQ ini, data yang terkumpul nantinya akan menjadi dasar bagi pemerintah desa, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam menyusun program pembangunan yang lebih inklusif, memastikan kelompok rentan memperoleh akses, serta memperkuat kapasitas komunitas dalam memahami kontribusi mereka untuk pembangunan desa yang lebih inklusif.   

Penulis: Ulfa Azizah Febryzalita  

Kunjungi media sosial JEMARI Sakato lainnya,                                          
Instagram: @jemari.sakato                                                                                          
Facebook: JEMARI Sakato                                                                                       
Linkedin: JEMARI Sakato                                                                                       
Youtube: JEMARI Sakato     


Share: