JEMARI Sakato

collapse

Perkuat Data yang Inklusif melalui Pelatihan WGQ

2026-05-04  JEMARI Sakato  109 views

jemarisakato.org, Mentawai – Kunci inklusivitas yang pernah didiskusikan oleh beberapa lembaga yang ada di Kabupaten Kepulauan Mentawai pada  Maret lalu yaitu data disabilitas yang lengkap dan mudah diakses. Kemudahan akses dan basis data yang akurat, valid, dan mutakhir terus diupayakan agar pemenuhan hak penyandang disabilitas mulai dari akses layanan sosial, pendidikan, administrasi kependudukan, maupun penanggulangan bencana dapat terjamin secara berkelanjutan.

Rabu (15/4), dilaksanakan kegiatan Capacity Building Washington Group Questions (WGQ) bersama beberapa partisipan pada desa dampingan GREAT Mentawai di Aula Desa Sipora Jaya. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut yang sudah disepakati sebelum pelaksanaan pendataan ke masyarakat di masing-masing desa.

Program Manager GREAT Mentawai, Cakra Haji, menegaskan bahwasanya kegiatan ini merupakan bagian penting dalam membangun desa yang lebih inklusif melalui penyediaan data yang akurat. Pendataan ini dilakukan tidak hanya sebagai syarat administratif, tetapi juga menjadi dasar dalam memastikan seluruh kelompok masyarakat, termasuk kelompok berisiko, terakomodasi dalam perencanaan pembangunan desa.

Kegiatan dipandu oleh Marlia secara langsung di lokasi serta fasilitator ASB South and South-East Asia , yaitu Rani. Dalam kegiatan tersebut, Rani dan Marlia memandu peserta untuk memahami form assessment yang sudah disusun oleh tim GREAT sesuai dengan kondisi wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai. Peserta difokuskan pada tata cara bertanya kepada kelompok berisiko, mulai dari nada bicara, memperkenalkan diri, meminta persetujuan responden (informed consent) sebelum wawancara dilakukan, tata cara pengisian form, hingga memahami pendamping responden jikalau dibutuhkan.

Setiap peserta yang akan melakukan pendataan di lapangan diingatkan untuk mengedepankan etika, tidak diskriminatif, serta mampu menggali informasi secara akurat tanpa mengarahkan jawaban. Hal ini dilakukan agar semua informasi yang diberikan responden nantinya sesuai dengan kebutuhan mereka.

Lilis, salah satu anggota FID Desa Sidomakmur yang akan melakukan pendataan di desanya berpendapat bahwa, kegiatan capacity building ini sangat membantu terutama dalam memahami cara melakukan pendataan yang benar dan tidak asal-asalan, “Sebelumnya saya pernah melakukan survei di desa, namun belum terlalu paham cara mengajukan pertanyaan dengan baik, terutama dengan kelompok berisiko (penyandang disabilitas),” ujarnya.

Tindak lanjut dalam kegiatan ini yaitu menyusun mekanisme pelaksanaan pendataan di lapangan, seperti pembagian waktu kerja, strategi pengumpulan data, dan sistem pelaporan harian. Melalui kegiatan ini diharapkan, data kelompok berisiko bisa segera terkumpul dan memenuhi kebutuhan desa agar pembangunan bisa dilakukan secara inklusi dan berkelanjutan.

 

Penulis: Ulfa Azizah Febryzalita

Kunjungi media sosial JEMARI Sakato lainnya,                                                                                                                           Instagram: @jemari.sakato                                                 
Facebook: JEMARI Sakato                                              
Linkedin: JEMARI Sakato                                              
Youtube: JEMARI Sakat  


Share: