jemarisakato.org, Mentawai – Pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan dalam mengelola keuangan pribadi menjadi fondasi bagi setiap individu, termasuk pelaku usaha di tingkat desa. Literasi keuangan tidak hanya membantu dalam mengatur anggaran, menabung, dan berinvestasi, tetapi juga berperan dalam mendorong pengambilan keputusan yang bijak serta meminimalkan risiko keuangan.
Dalam memperkuat kapasitas tersebut, kelompok yang ada di desa bersama GREAT Mentawai melakukan pelatihan literasi keuangan kepada sejumlah kelompok dampingan, di antaranya UMKM Desa Matobe, kelompok Sekolah Lapang Sipora Jaya, dan kelompok PKK Sipora Jaya. Kegiatan ini difokuskan untuk meningkatkan pemahaman dasar individu maupun kelompok dalam pengelolaan keuangan yang selama ini mereka jalankan.
Salah satu persoalan yang paling umum dihadapi pelaku usaha yaitu belum bisa memisahkan keuangan pribadi dan usaha mereka. Kondisi ini menyebabkan dana usaha sering kali digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, dan hal ini menghambat perkembangan usaha itu sendiri. Melalui pelatihan ini, peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya pemisahan keuangan dan perlunya literasi keuangan terhadap keberlanjutan usaha.
Selain penguatan kapasitas individu, kelompok dampingan juga diperkenalkan pada metode Simpan Pinjam Mandiri Kelompok pada minggu kedua April lalu. Skema ini dirancang untuk mendorong kemandirian finansial melalui sistem tabungan dan pinjaman yang dikelola secara kolektif oleh anggota kelompok.

Melalui mekanisme ini, anggota didorong untuk membangun kebiasaan menabung secara rutin. Dana yang dikumpulkan kemudian bisa dimanfaatkan sebagai sumber pinjaman internal tanpa ketergantungan pada lembaga eksternal. Sistem ini tidak hanya memperkuat ketahanan ekonomi keluarga dalam menghadapi kebutuhan mendesak, tetapi juga memberikan peluang pengembangan usaha secara mandiri melalui pinjaman yang diajukan dalam kelompok.
Sistem simpan pinjam kelompok secara mandiri ini memiliki keunikan yang sederhana dan fleksibel. Setiap kelompok umumnya beranggotakan 10 hingga 25 orang, sehingga uang yang dikelola dapat dikelola secara lebih mudah dan transparan. Aturan terkait besaran tabungan, mekanisme pinjaman, hingga biaya administrasi keterlambatan dalam pengembalian pinjaman disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi masing-masing kelompok.

Fleksibilitas ini menjadi salah satu keunggulan utama, karena memberikan ruang bagi kelompok dalam mengelola keuangan secara mandiri sekaligus membangun rasa tanggung jawab antar anggota.
Dalam pelaksanaannya, kelompok juga dilengkapi dengan berbagai perangkat pendukung, seperti buku tabungan untuk mencatat simpanan anggota, kotak brankas untuk menyimpan uang, wadah pembayaran dan denda, kantong khusus untuk dana pinjaman dan dana sosial, serta perangkat pencatatan.
Struktur kepengurusan dalam simpan pinjam mandiri kelompok ini juga cukup menarik, terdiri dari ketua yang bertugas memimpin jalannya kegiatan kelompok, juru tulis yang mencatat seluruh transaksi, pemegang brankas yang bertanggung jawab atas penyimpanan uang, juru hitung yang membantu dalam proses perhitungan keuangan, serta pemegang kunci brankas dengan jumlah 3 orang.
Melalui penerapan sistem ini, kelompok-kelompok di desa diharapkan mampu mengelola keuangan secara lebih disiplin, transparan, dan berkelanjutan. Hal ini menjadi bagian penting dalam mendorong kemandirian kelompok dalam memperkuat ketahanan finansial rumah tangga. Selain itu, individu dalam kelompok berisiko bisa meningkatkan ekonomi mereka melalui metode Simpan Pinjam Mandiri Kelompok melalui tabungan yang mereka lakukan setiap pertemuannya.
Penulis: Ulfa Azizah Febryzalita
Kunjungi media sosial JEMARI Sakato lainnya, Instagram: @jemari.sakato
Facebook: JEMARI Sakato
Linkedin: JEMARI Sakato
Youtube: JEMARI Sakato