jemarisakato.org, Mentawai – Praktik pertanian melalui kebun Sekolah Lapang (SL) dan kelompok PKK di empat desa dampingan GREAT Mentawai terus diperkuat untuk mendorong ketahanan pangan dan kemandirian rumah tangga. Salah satu pendekatan yang dilakukan yaitu dengan bertukar pengalaman langsung antarpelaku, agar mereka dapat saling belajar praktik terbaik sekaligus memahami tantangan yang dihadapi di lapangan.
Pada bulan lalu, pelaku pertanian dan Sekolah Lapang dan PKK melakukan pertemuan untuk merefleksikan perjalanan kegiatan di lahan mereka sepanjang Januari hingga Maret. Pertemuan ini dikemas dalam bentuk kegiatan Farmer to Farmer Learning yang diadakan di dua tempat berbeda, yaitu di Pondok Evakuasi Sioban dan Graha Viona Sipora Jaya.
Kegiatan di Pondok Evakuasi Sioban melibatkan anggota Sekolah Lapang dari Desa Sioban dan Desa Matobe. Dalam pelaksanaannya, JEMARI Sakato berkolaborasi dengan sejumlah organisasi nonpemerintah (NGO), seperti Yayasan Sheep dan CDRM, yang juga memiliki fokus serupa di desa dampingan mereka. Untuk memperkaya pertukaran pengetahuan, kelompok Sekolah Lapang dari Desa Nemnem Leleu dan Desa Bareulo turut bergabung dalam kegiatan tersebut.

Dalam diskusi yang dilakukan, peserta berbagi pengalaman terkait kondisi lahan, jenis tanaman yang diusahakan, serta berbagai tantangan selama proses budidaya. Salah satu pembelajaran yang menarik datang dari kelompok Sekolah Lapang Desa Nemnem Leleu dan Desa Bareulo, yakni praktik budidaya tanaman keladi dan pisang sebagai sumber pangan yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga relatif tahan terhadap perubahan iklim. Selain itu, Desa Sioban juga berbagi pengetahuan mengenai kondisi iklim dan upaya adaptif iklim melalui perluasan lahan serta pembuatan pupuk organik.
Di desa-desa dampingan GREAT Mentawai, keladi dan pisang memang menjadi komoditas utama yang banyak diusahakan oleh petani. Namun, praktik budidaya yang belum berkelanjutan masih menjadi tantangan. Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh pengetahuan baru mengenai teknik pengelolaan lahan yang lebih baik untuk meningkatkan produktivitas kedua komoditas tersebut. Dilihat dari kegiatan pertanian di dua desa dampingan GREAT ini, tanaman pisang dan keladi memang menjadi salah satu komoditas yang banyak diusahakan oleh petani. Namun, proses budidaya yang tidak berkelanjutan menjadi tantangan utama bagi masyarakat desa dalam mengusahakannya. Sehingga, melalui kegiatan Farmer to Farmer Learning ini, peserta kegiatan belajar dalam mengelola lahan untuk keladi dan pisang dari kelompok Sekolah Lapang dari Desa Nemnem Leleu dan Desa Bareulo.
Di sisi lain, kegiatan Farmer to Farmer Learning di Sipora Jaya dilakukan dengan proses yang berbeda. Dilihat dari kondisi di Desa Sidomakmur yang belum memiliki kelompok Sekolah Lapang, dilakukan praktik langsung di lahan Sekolah Lapang dan PKK Sipora Jaya. Peserta kegiatan melakukan pengamatan langsung mengenai tanah, tanaman, dan produktivitas lahan yang sedang diusahakan oleh Sekolah Lapang dan PKK Sipora Jaya. Dalam hal ini, Desa Sidomakmur mulai tertarik untuk membentuk kelompok Sekolah Lapang di desa agar bisa melakukan praktik pertanian secara mandiri.

Dari kedua kegiatan pada masing-masing desa tersebut, peserta kegiatan juga melakukan identifikasi terhadap faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan tanaman serta solusi untuk diterapkan pada musim berikutnya agar kegagalan di musim sekarang tidak terjadi lagi. Hal ini penting untuk meminimalkan risiko kegagalan panen yang dialami sebelumnya.
Selain aspek teknis, peserta kegiatan juga didorong untuk melibatkan semua orang dari berbagai kalangan dalam kegiatan pertanian, seperti kelompok berisiko. Mereka percaya bahwa dengan melibatkan semua orang bisa memberikan kemandirian pangan bagi rumah tangga, sehingga ketahanan pangan rumah tangga bisa dicapai oleh semua masyarakat yang ada di Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Penulis: Ulfa Azizah Febryzalita
Kunjungi media sosial JEMARI Sakato lainnya, Instagram: @jemari.sakato
Facebook: JEMARI Sakato
Linkedin: JEMARI Sakato
Youtube: JEMARI Sakato