jemarisakato.org, Padang – Pengembangan Sekolah Lapang (SL) Solusi Berbasis Alam di desa-desa dampingan GREAT Mentawai terus diperkuat sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan pangan yang adaptif terhadap perubahan iklim. Berbagai kegiatan yang sudah dilakukan sebelumnya, mulai dari pengolahan pupuk organik bersama kelompok Sekolah Lapang dan PKK di Desa Sipora Jaya hingga perbaikan fasilitas ketahanan pangan yang juga dilakukan di Desa Sipora Jaya . Langkah ini menjadi bagian dari dukungan berkelanjutan dan pengembangan praktik pertanian yang lebih tangguh dan berkelanjutan di tingkat desa.
Pendekatan pengolahan lahan yang adaptif terhadap iklim menjadi fokus utama dalam kegiatan pertanian yang dikembangkan melalui Sekolah Lapang. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan risiko gagal panen, menjaga produktivitas lahan, dan memperkuat ketahanan pangan di tengah cuaca yang tidak menentu. Selain itu, praktik pertanian yang diterapkan mengedepankan prinsip nature-based solutions , yakni memanfaatkan potensi sumber daya alam secara bijak dan berkelanjutan untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi risiko perubahan iklim dan bencana.
Untuk memperkuat kapasitas kelompok tani dan perempuan di desa, diskusi bersama berbagai pemangku kepentingan terus dilakukan. Beberapa minggu lalu, Focus Group Discussion (FGD) dilakukan oleh anggota Sekolah Lapang serta PKK bersama pemerintah desa, BPBD Kabupaten Kepulauan Mentawai, serta DPMDP2KP Kabupaten Kepulauan Mentawai. Dalam forum ini, masing-masing kelompok Desa Sipora Jaya dan Desa Sioban memaparkan kondisi lahan yang mereka kelola serta berbagai tantangan yang dihadapi.

Perwakilan Sekolah Lapang dan PKK Desa Sipora Jaya menjelaskan bahwasanya lahan yang dikelola saat ini ditanami berbagai jenis tanaman pangan dan tanaman obat keluarga. Namun, kelompok menghadapi sejumlah kendala seperti perubahan musim yang memengaruhi waktu tanam, kondisi tanah yang membutuhkan pengolahan lebih baik, serta keterbatasan akses terhadap sarana pendukung pertanian seperti pupuk organik dan alat pengukur pH tanah.
Sementara itu, perwakilan PKK Desa Sioban mengelola pekarangan rumah sebagai sumber pangan keluarga dengan menanam tanaman lokal seperti keladi, rempah-rempah, dan tanaman pangan yang dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Di sisi lain, kelompok Sekolah Lapang Desa Sioban mengelola lahan bersama milik pendeta yang dimanfaatkan untuk menanam tanaman pangan. Kedua kelompok di desa tersebut menghadapi tantangan serupa, mulai dari menentukan jenis tanaman yang adaptif terhadap iklim, teknik pengelolaan lahan yang tepat, hingga pemilihan komoditas yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.
Perubahan pola hujan dalam beberapa tahun terakhir di wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai memengaruhi kegiatan pertanian masyarakat. Sebelumnya, waktu tanam dan panen dapat diprediksi berdasarkan pola musim yang relatif stabil. Namun, kini kondisi tersebut tidak lagi dapat dijadikan acuan karena cuaca yang semakin sulit diperkirakan. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan iklim memberikan dampak nyata terhadap sektor pertanian di tingkat lokal.
Setelah penyampaian kondisi dan tantangan masing-masing kelompok, peserta FGD mendapatkan materi pendukung dari Pendamping Pertanian Lapangan (PPL) desa, Atikah Yulma Indah. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan mengenai perubahan kondisi iklim, faktor penyebabnya, serta dampaknya terhadap sektor pertanian. Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan pentingnya kalender tanam (Katan) sebagai acuan untuk menentukan waktu tanam yang lebih tepat, serta teknik pengolahan tanah yang dapat meningkatkan kesuburan tanah.
Sebagai bagian dari proses pembelajaran, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke area pertanian yang dikelola kelompok. Peserta bersama fasilitator melihat langsung kondisi tanaman serta praktik pengolahan lahan yang telah dilakukan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan kelompok Sekolah Lapang dan PKK dapat memahami kondisi lahan yang mereka kelola, sekaligus mampu menentukan jenis tanaman serta pola pengelolaan yang lebih sesuai dengan kondisi lingkungan. Praktik pertanian yang dijalankan tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan keluarga, tetapi juga memperkuat ketahanan masyarakat desa dalam menghadapi tantangan perubahan iklim di masa mendatang.
Penulis: Ulfa Azizah Febryzalita
Kunjungi media sosial JEMARI Sakato lainnya,
Instagram: @jemari.sakato
Facebook: JEMARI Sakato
Linkedin: JEMARI Sakato
Youtube: JEMARI Sakato