jemarisakato.org, Padang – Program GREAT Mentawai yang telah berjalan setahun melaksanakan Learning Workshop Tahun Pertama bertema Learning Trip, Jumat–Sabtu (29–30/8). Kegiatan ini menjadi ruang evaluasi, berbagi pengalaman, sekaligus merumuskan perbaikan program Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan Adaptasi Perubahan Iklim (API) di Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Workshop yang digelar di hari pertama dibuka oleh Kalaksa BPBD Mentawai, Lauren Sius Saruruk. Ia berharap praktik baik yang lahir dari program pendampingan ini dapat diperluas ke wilayah lain di Mentawai. “Kegiatan pembelajaran seperti ini penting dilakukan agar ada evaluasi dan standar kegiatan yang lebih baik di desa dampingan,” ujarnya.
Diskusi panel turut menghadirkan Kepala Dinas DPMD Sumbar Yozawardi Usama Putra, Ketua FPRB Mentawai Sandang Paruhum, dan Champion Desa Sipora Jaya, Sipora Wati.
Yozawardi menekankan pentingnya kesadaran dan partisipasi masyarakat untuk memperkuat kelembagaan desa. Sementara Sandang menilai kehadiran JEMARI Sakato membantu penguatan FPRB Mentawai melalui legalitas organisasi. Adapun Sipora Wati berbagi pengalaman bagaimana program HVCA mendorong warga mengelola kebun PKK dan Sekolah Lapang untuk memanfaatkan lahan rumah tangga.
Hari kedua dilanjutkan dengan Peer to Peer Learning ke Kabupaten Agam. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan desa dampingan JEMARI Sakato, pemerintah daerah Kabupaten Mentawai, serta Kalaksa BPBD Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Kunjungan ini meliputi:
Manajemen Kelompok Siaga Bencana (KSB) di Canduang Koto Laweh, Kabupaten Agam. Dalam kunjungan ini, partisipan Program GREAT Mentawai, berdiskusi dengan KSB Canduang dalam manajemen pengelolaan kelompok dalam menghadapi bencana. Selain itu, juga dilakukan kunjungan ke secretariat KSB Canduang Koto Laweh.
Pengelolaan Air Bersih dan Layak di Saratuih Janjang, Kabupaten Agam. Dalam kunjungan ini partisipan Program GREAT Mentawai, langsung mengunjungi sumber air bersih dan sharing seputar pengelolaan air bersih di daerah tersebut. Sehingga, dalam diskusi ini bisa memberikan percontohan untuk desa di Mentawai dalam mengadopsinya. Selain itu, di Saratuih Janjang juga memberikan salah satu contoh pengelolaan sumber daya lokal, yaitu dendeng yang terbuat dari jantung pisang. Hal ini memberikan percontohan untuk desa di Mentawai dapat mengolah salah satu hasil bumi yang melimpah di Mentawai, yaitu pisang. Sehingga melalui ini memberikan praktik baik pengelolaan dari jantung pisang.
Aksi Aktisipatif dan Toilet Inklusi di Bukik Batabuah, Kabupaten Agam. Kunjungan ke KSB Bukik Batabuah ini memberikan pandangan baru tentang pembuatan dokumen aksi aktisipatif yang inklusi. Sehingga melalui diskusi ini mendorong terbentuknya Renkon ataupun dokumen Aksi Aktisipatif untuk Kabupaten Kepulauan Mentawai sama halnya dengan Nagari Bukik Batabuah.
Melalui Learning Workshop Tahun Pertama ini, diharapkan terdokumentasikannya capaian, tantangan, dan pembelajaran utama dari pelaksanaan Program GREAT Mentawai selama satu tahun pertama baik di tingkat desa maupun kabupaten. Selain itu, juga terjadi pertukaran pengalaman dan praktik bai kantar desa dampingan.
Penulis: Ulfa Azizah Febryzalita
Kunjungi media sosial JEMARI Sakato lainnya,
Instagram: @jemari.sakato
Facebook: JEMARI Sakato
Linkedin: JEMARI Sakato
Youtube: JEMARI Sakato