JEMARI Sakato

collapse

Belajar dari Manggarai: Ekonomi Hijau dalam Implementasi Pelaksanaan Program

2026-05-15  JEMARI Sakato  33 views

jemarisakato.org, Padang – Praktik pembelajaran dalam sebuah program menjadi salah satu hal utama dalam melakukan pemberdayaan. Hal ini menjadi penting karena setiap program memiliki tujuan pencapaian yang berbeda-beda. Arbeiter Samariter Bund South and South East Asia (ASB S-SEA) yang bermitra dengan organisasi lokal terus mendorong pertukaran praktik pembelajaran antarmitra dalam mendukung ruang diskusi sesama mitra untuk dapat belajar satu sama lain.

Bulan lalu, ASB S-SEA mengadakan “Lokakarya Berbagi Pembelajaran Mewujudkan Ekonomi Hijau yang Inklusif” di Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Kegiatan ini menjadi salah satu wadah bagi para mitra untuk belajar tentang tahapan yang diperlukan pada saat awal membangun usaha yang inklusif dan ramah lingkungan. Implementasi kegiatan ini dilakukan oleh organisasi lokal NTT, yaitu Harapan Mobilisasi Inklusi untuk Iklim: Menuju Transisi yang Inklusif di Komunitas Desa (HARMONI).

Lokakarya dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan mitra ASB yang berprogram di Indonesia, seperti Paluma Nusantara, JEMARI Sakato, Yayasan Sikola Mombine, perwakilan mitra OPDis masing-masing lembaga, serta turut mengundang pemerintah daerah Kabupaten Manggarai Barat, seperti Bappeda Manggarai Barat. Selain itu, kegiatan juga melibatkan Perkumpulan Perempuan Tangguh Perubahan Iklim (PPTPI), Perkumpulan Penyandang Disabilitas (PPD) Manggarai Barat, serta mitra dan tim program HARMONI. 

Selama lokakarya dilakukan, HARMONI memperkenalkan konsep ekonomi hijau yang inklusif, sebuah pendekatan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada keberlanjutan lingkungan, tetapi juga memastikan setiap orang, termasuk kelompok rentan, kaum marjinal, dan lanjut usia, mendapatkan tempat yang setara dalam proses dan manfaatnya. Penguatan peran komunitas lokal dalam pengelolaan sumber daya bukan pilihan, melainkan sebuah keharusan, karena dari sanalah keresahan nyata masyarakat bermula. 

Pembelajaran tidak berhenti di ruang diskusi saja. Para peserta diajak turun langsung melihat desa dampingan HARMONI untuk menyaksikan sendiri apa yang telah dilakukan. Desa Repi, memperlihatkan kelompok-kelompok yang telah mandiri mengelola sumber daya lokal mereka. Sementara itu, di Desa Warloka Pesisir, pengelolaan hasil laut menjadi tulang punggung perekonomian warga pesisir. 

Selama kunjungan lapangan tersebut, setiap kelompok yang didampingi menunjukkan proses pembelajaran yang sangat baik. Hal ini terlihat dari beberapa produk sudah memiliki sertifikasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), mengelola kerajinan khas desa yaitu tenun, serta kolaborasi antar kelompok dalam upaya pelestarian lingkungan berbasis masyarakat. Hal ini menunjukkan setiap orang yang terlibat dalam melakukan kegiatan usaha mereka selalu selalu mengedepankan prinsip inklusi berbasis GEDSI dan ramah lingkungan. 

Lokakarya ini bukan sekadar agenda pertukaran informasi, melainkan tempat bagi seluruh mitra untuk belajar dari praktik baik yang dilakukan. Sehingga, melalui ini setiap mitra memiliki bekal untuk memperkuat program masing-masing. Ke depannya, semangat yang tumbuh dari Manggarai Barat ini diharapkan bisa menjadi referensi mitra dalam pelaksanaan program yang berkaitan dengan pembangunan sosial ekonomi, manajemen risiko bencana dan perubahan iklim, serta inklusi sosial yang lebih kuat dan bermakna. 

Penulis: Ulfa Azizah Febryzalita

Kunjungi media sosial JEMARI Sakato lainnya,          
Instagram: @jemari.sakato                                                       
Facebook: JEMARI Sakato                                                    
Linkedin: JEMARI Sakato                                                    
Youtube: JEMARI Sakato  


Share: