JEMARI Sakato

collapse

Dorong Kemandirian Ekonomi Desa melalui Penguatan Kapasitas BUMDes

2026-07-24  JEMARI Sakato  91 views

jemarisakato.org, Kabupaten Kepulauan Mentawai – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) memegang peranan strategis sebagai penggerak perekonomian desa. Keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh jenis usaha yang dijalankan, tetapi juga dilihat dari tata kelola kelembagaan yang baik, kepengurusan yang aktif, administrasi yang tertib, serta kemampuan membangun kemitraan, dan mengembangkan potensi lokal secara inklusif dan berkelanjutan.

Memasuki tahun kedua pendampingan GREAT Mentawai, JEMARI Sakato terus memperkuat kapasitas BUMDes di empat desa dampingan. Sebelumnya, masing-masing BUMDes telah difasilitasi dalam menyusun Rencana Bisnis (Business Plan) sebagai acuan pengembangan usaha. Namun, hasil pendampingan menunjukkan masih diperlukan penguatan lebih lanjut, terutama dalam aspek manajemen, rantai pasok produk usaha lokal, pengembangan produk, serta aspek operasional dan finansial untuk memastikan efisiensi dan daya saing.

Sebagai tindak lanjut, Penguatan Kapasitas Kelembagaan BUMDes dan Pengembangan Usaha Desa yang Inklusif dan Berkelanjutan pada minggu kedua Juli di Aula Desa Sipora Jaya diselenggarakan. Dalam kesempatan ini turut diundang perwakilan pemerintah desa serta pengurus BUMDes masing-masing desa.

Dalam sambutannya, Dewan Sakato, Budi Febriandi, menegaskan bahwa ketahanan ekonomi masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ketahanan desa secara keseluruhan

“Program GREAT Mentawai tidak hanya berbicara mengenai adaptasi perubahan iklim ataupun pengurangan risiko bencana, tetapi ketahanan ekonomi masyarakat menjadi bagian dari ketahanan desa. Sehingga saat ekonomi masyarakat kuat, maka kemampuan masyarakat untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit menjadi semangat dalam mewujudkan masyarakat yang tangguh,” ujarnya.

Selain itu, Koordinator Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Kepulauan Mentawai, Doni Kasnaidi, juga menyampaikan bahwa pendampingan kepada masyarakat dilakukan sesuai dengan basis kondisi nyata di lapangan, sehingga dapat membantu BUMDes menjadi lebih profesional, mandiri, dan berkelanjutan.

Sejalan dengan itu, Linda Defianti, perwakilan DPMDP2KB Kabupaten Kepulauan Mentawai, memberikan sambutan dengan rangkaian kegiatan BUMDes yang dilakukan serta membuka secara resmi kegiatan pada hari tersebut. “Saya menyambut baik pelaksanaan Self-Assessment BUMDes yang sudah dilakukan. Sehingga ini menjadi langkah awal untuk melihat kondisi kelembagaan dan pengelolaan usaha secara objektif. Selain itu, assessment ini menjadi dasar kita untuk menindaklanjuti penguatan seperti apa yang bisa kita lakukan kepada masing-masing BUMDes,” ujarnya.

Selama dua hari pelaksanaan, peserta mendapatkan materi mengenai peran strategis dan posisi BUMDes sebagai penggerak perekonomian desa. Selain itu, perwakilan TAPM juga memaparkan hasil asesmen yang sudah dilakukan dengan pemeringkat BUMDes Desa Sidomakmur dan Desa Sipora Jaya pada level pemula dengan jumlah skor 55 sampai dengan 70, serta Desa Matobe dan Desa Sioban pada level perintis dengan jumlah skor 55.

Penilaian tersebut mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2021 sebagai pedoman teknis penilaian yang mencakup aspek kelembagaan, manajemen, usaha/unit usaha, kerja sama/kemitraan, aset dan permodalan, laporan keuangan, dan manfaat bagi masyarakat. Sehingga dalam hal ini, assessment yang dilakukan sejalan dengan peraturan yang sudah ada.

Selain mengevaluasi kondisi kelembagaan, peserta juga mengikuti diskusi kelompok menggunakan Internal Factor Analysis Summary (IFAS) yang berguna untuk merumuskan strategi internal organisasi dengan mengidentifikasi kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses). Selain itu, masing-masing desa juga diminta untuk mengidentifikasi kembali hal yang menjadi peluang dan tantangan Eksternal Factor Analysis Summary (EFAS) dalam memengaruhi pengembangan BUMDes.

Melalui pendampingan TAPM yang ikut hadir, peserta diminta terus menggali semua peluang, tantangan, kekuatan, serta kelemahan dari masing-masing BUMDes. Sehingga, hasil diskusi menjadi dasar dalam merumuskan strategi pengembangan BUMDes yang lebih terarah. Dengan demikian, data awal ini bisa menjadi strategi yang disusun tidak hanya berdasarkan kondisi eksisting, tetapi juga berdasarkan peluang pengembangan yang tersedia dan tantangan yang perlu diantisipasi agar kelembagaan yang ada bisa terus tumbuh sebagai lembaga ekonomi desa yang profesional, adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.

Sebagai tindak lanjut, dilakukan perbaikan sesuai nilai pemeringkatan di masing-masing desa untuk menuju BUMDes yang maju sehingga BUMDes bisa menjadi salah satu lembaga yang terdepan dalam menggerakkan perekonomian desa untuk dapat mendukung Pendapatan Asli Desa (PADes)

Penulis: Ulfa Azizah Febryzalita

Kunjungi media sosial JEMARI Sakato lainnya,                                          
Instagram: @jemari.sakato                                                                                          
Facebook: JEMARI Sakato                                                                                       
Linkedin: JEMARI Sakato                                                                                       
Youtube: JEMARI Sakato


Share: