Perkembangan maupun keberhasilan suatu negara atau daerah tidak hanya dapat diukur dari perkembangan ekonomi, tapi juga berdasarkan indeks kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) atau Human Development Index (HDI). Kualitas SDM Indonesia menempati peringkat 121 dari 187 negara di dunia. Di ASEAN, Indonesia berada pada peringkat 6, di bawah Singapura, Brunai Darussalam, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Hanya Vietnam dan Myanmar yang kualitas SDM-nya di bawah Indonesia.

Sejak diberlakukannya pada 1 Januari 2016, Ma­syarakat Ekonomi ASEAN (MEA) merupakan peluang besar bagi Indonesia, sekaligus menjadi ancaman yang besar pula. Peluangnya ialah pasar kerja yang lebih besar daripada sebelumnya bagi tenaga kerja Indonesia. Dengan adanya MEA, tenaga kerja Indonesia bisa bekerja di luar negeri. Kedengarannya sangat me­narik karena bisa bekerja di luar negeri merupakan impian banyak orang. Selain gaji yang lebih besar, bekerja di luar negeri jauh lebih bergengsi, tentunya bekerja dalam kon­teks tenaga kerja profesional. Celakanya, peluang tersebut bukan hanya untuk Indonesia, namun milik semua negara anggota MEA. Sementara te­na­ga kerja Indonesia, ja­ngan­kan mempunyai pekerjaan yang bagus di luar negeri, untuk bersaing di dalam negari saja masih sulit, apalagi harus bersaing dengan tenaga kerja asing yang SDM-nya lebih berkualitas. Sebagai contoh, eskpansi tenaga kerja Tiong­kok di Indonesia. Jumlah me­reka lebih dari 10 juta orang. Mereka telah berkeja di ba­nyak perusahaan di Indone­sia.

Kini, kita hanya bisa saling menyalahkan. Masyarakat menuding pemerintah belum optimal dalam upaya men­cerdaskan kehidupan bangsa, sedangkan pemerintah me­nya­lahkan masyarakat yang belum memiliki kesadaran untuk meningkatkan kualitas SDM. Memang benar bahwa meningkatkan kualitas SDM generasi bangsa merupakan tugas pemerintah. Namunm ji­ka masyarakat malah ber­sikap “abai”, akhirnya yang di­upayakan bersama tersebut menjadi sia-sia.

Kualitas SDM

Perihal kualitas SDM, SDM yang berkualitas dinilai berdasarkan kualitas fisik dan psikis yang baik. Sejatinya, pembentukan kualitas SDM dimulai sejak awal kehidupan, yakni 1.000 hari pertama ke­hidupan. Artinya, 270 hari dalam kandungan dan 730 hari setelah dilahirkan.

Kondisi gizi ibu dan bayi di Indonesia memang mem­pri­hatinkan. Data terakhir Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 mencatat tingginya pre­valensi Kurang Energi Kronis (KEK) pada wanita usia subur (15-49 tahun) sebesar 20,8 persen dan pada wanita hamil (25-49 tahun) sebesar 24,2 persen. Dalam hal anemia, prevalensi anemia pada ibu hamil juga tinggi, yaitu sebesar 37,1 persen. Artinya, men­dekati masalah kesehatan masyarakat yang berat (severe public helth problem) karena angkanya kurang dari 40 per­sen. Bayangkan saja, setiap hari ada 10.000 bayi yang lahir di Indonesia. Jika 10.000 bayi lahir tersebut tidak di­per­siapkan pertumbuhannya dan perkembangannya tidak dika­wal dengan baik, kita sama dengan mencetak 4 juta jiwa generasi bangsa setiap tahun dengan SDM yang tidak ber­kualitas. Lalu, apa yang bisa dilakukan agar SDM Indo­nesia bisa bersaing dengan SDM dari luar negeri?

Melahirkan

Generasi Emas

Secara sederhana, mela­hirkan generasi emas dimulai dari prakonsepsi, konsepsi, kehamilan, kelahirahan, dan bayi. Tahap-tahap tersebut ialah masa fundamental yang me­mengaruhi kondisi kehi­dupan manusia ke depannya. Pada masa-masa itu, peranan gizi sebagai unsur pendukung utama kesehatan, pertum­buhan, dan perkembangan manusia merupakan hal yang sangat penting. Gizi ibu saat hamil akan berpengaruh terha­dap kesehatan dan status gizi janin dan bayinya yang ke­mudian dapat berlanjut ke periode anak dan remaja.

Sesungguhnya, faktor ge­netik bukan satu-satunya fak­tor yang memengaruhi per­tum­buhan dan perkembangan janin. Penelitian mem­buk­tikan bah­wa lingkungan lebih domi­nan memengaruhi per­tum­buhan dan perkembangan janin. Janin yang tumbuh di lingkungan gizi yang buruk dapat dikenali dari rendahnya berat badannya ketika dilahir­kan (Berat Badan Lahir Ren­dah). Padahal, masa ke­ha­milan merupakan masa ter­ben­tuk­nya organ, dan otak adalah organ pertama yang terbentuk serta berkembang pada masa awal kehamilan (trimester pertama). Masa ini merupakan masa kritis (cri­tical period). Masa ini besifat irreversible atau tidak dapat diperbaiki sehingga gang­guan pertum­bu­han pada fase ini akan ber­dampak buruk seumur hi­dup.

Kekurangan gizi pada ma­sa dini perkembangan otak akan menghentikan sistesis pro­tein dan DNA. Berhentinya sistesis protein dan DNA me­ng­­akibatkan berkurangnya pertumbuhan otak sehingga membuat sel-sel otak yang berukuran normal menjadi sedikit. Dampaknya akan terlihat pada struktur dan fungsi otak pada masa kehi­dupan mendatang sehingga berpengaruh terhadap intelek­tual anak. Selanjutnya, otak akan terus tumbuh hingga anak berusia dua tahun. Anak di bawah usia dua tahun yang kekurangan gizi dapat me­nyebabkan kekurangan sel otak sebesar 15 persen hingga 20 persen.

Selain itu, pada 730 hari pe­r­iode setelah lahir, anak bu­tuh ketersediaan energi yang cukup banyak untuk ber­akti­vitas, seperti bergerak, me­rangkak, berdiri dan berlari. Ak­­ti­vitas-aktivitas demikian me­­ngeluarkan energi yang ting­­gi. Apabila energinya ti­dak tercukupi, anak menjadi lam­­ban sehingga menyebkan gang­guan motorik yang ber­dam­pak terhadap kecerdasan anak.

Kekurangan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan tidak hanya memengaruhi kualitas psikis, tapi juga me­me­ngaruhi kualitas fisik. Bayi yang panjang badannya ku­rang dari 48 sentimeter akan pendek saat dewasa diban­dingkan dengan bayi yang lahir dengan panjang badan di atas 48 sentimeter dengan aktivitas dan asupan kedua bayi tersebut sama ketika masa pertumbuhan. Ukuran tubuh yang tidak profesional juga sangat menghambat generasi bangsa terhalang mencapai cita-cita. Kenapa? Karena dewasa ini banyak pekerjaan yang membutuhkankan uku­ran tubuh yang profesional.

Oleh karena itu, untuk menanamkan kesadaran pen­ting­nya membangun generasi emas, perlu adanya komitmen untuk membangun generasi yang berkualitas. Komitmen tersebut dimulai dari orang tua. Hal tersebut dapat dimulai dari awal pernikahan.

Saat ini di Indonesia, calon pengantin diberikan pem­bekalan nilai-nilai aga­ma oleh Kantor Urusan Aga­ma (KUA) untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawa­dah, dan warahmah. Pem­be­kalan ter­sebut memang di­per­lukan. Namun, selain pem­bekalan nilai-nilai aga­ma, pembekalan dalam hal membangun gene­rasi ber­kua­litas (dimulai dari per­siapan kehamilan, kela­hiran, hingga perawatan dan penga­suhan anak) juga harus dike­tahui oleh calon pengan­tin, seperti yang tertuang dalam kegiatan intervensi sensitif dalam gerakan 1000 HPK. Hemat saya, pembekalan yang dilakukan satu atau dua kali pertemuan saja tidak cukup. Perlu adanya se­ma­cam boarding school mini­mal 6 hingga10 kali perte­muan se­hingga dapat mem­bangun semangat tentang pentingnya membangun ge­ne­rasi yang berkualitas.

Oleh : Delian Fathurahmi
Aktifis Perempuan JEMARI Sakato Sumatera Barat

dipublish oleh harian Haluan , 14 Oktober 2016 . cek link http://harianhaluan.com/news/detail/60859/urgensi-membangun-generasi-emas-sejak-dini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *