khairul fahmi jemari sakato

jemari sakatoTahun 2012, JEMARI Sakato atas dukungan dana dari UNDP telah melaksanakan program “Integrasi Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim ke dalam Penghidupan Berkelanjutan” di Jorong 100 Janjang, Nagari Canduang Koto Laweh kecamatan Canduang, kabupaten Agam. Secara geografis, nagari ini merupakan daerah rawan bencana terutama bencana longsor dan gunung api serta daerah yang terdampak perubahan iklim karena mata pencaharian utama masyarakat adalah bergantung pada alam.  Program ini dilaksanakan dengan cara melakukan pendampingan terhadap Masyarakat terkait sikap kesiapsiagaan terhadap bencana serta mencarai strategi agar mampu mempertahankan perekonomian pasca bencana. Karena diperkiran, ketika terjadi bencana, mata pencaharian masyarakat yang mayoritas adalah perkebunan dan sawah tersebut akan mengalami kerusakan.

Melalui dampingan JEMARI Sakato masyarakat mempunyai inisiatif untuk membuat sistem pengadaan air bersihIMG_4427 yang berasal dari perbukitan kemudian dialirkan melalui pipa ke rumah-rumah warga. “Sebelum adanya program JEMARI Sakato, kami harus menghabiskan waktu 2 jam untuk mendapatkan air bersih atau menampung air hujan, sekarang kami bisa mendapatkan air bersih langsung di rumah” ujar Mina, salah seorang warga jorong 100 Janjang. Disamping pengadaan air bersih, JEMARI Sakato juga menginisiasi warga setempat untuk membuka wirausaha seperti usaha keripik ubi dan dendeng jantung pisang. Program ini diakui masyarakat sangat membantu mereka dalam hal perekonomian dan mereka juga menjadi lebih siap dalam menghadapi bencana dari segi mata pencaharian.

jemari sakatoMeskipun program telah selesai dilaksanakan sejak 3 tahun yang lalu, namun JEMARI Sakato sebagai pendamping tidak lepas tangan dalam mewujudkan kemandirian masyarakat, seperti kegiatan pada hari kamis, 8 September 2015, warga setempat meminta support JEMARI Sakato untuk membantu menyelesaikan permasalahan terkait manajemen pengadaan  air bersih. Setelah dilakukan survey langsung ke sumber air bersih, kegiatan ini bertepatan dengan kegiatan gotong royong yang dilakukan oleh warga jorong 100 janjang untuk memperbaiki kerusakan pipa-pipa dan membersihkan jalur menuju sumber air bersih. Saat ini masyarakat sangat menyadari pentingnya sumber air bersih ini, terbukti dari banyaknya warga yang berpartisipasi dalam gotong royong tersebut, yaitu ±150 orang, selain itu partisipasi masyarakat juga tampak dengan tingginya tingkat swadaya masyarakat untuk pengadaan pipa-pipa dam membangun secara swadaya bak penampungan air pada titik-titik terrentu.
jemari sakatoSetelah makan siang bersama di lokasi sumber air bersih yang terletak di pinggang gunung marapi (+ 2 Km dari pemukiman warga), warga dan tim JEMARI Sakato berdiskusi mengenai permasalahan yang dihadapi saat ini, terutama terkait dengan pengelolaat air bersih. Dari hasil diskusi yang berlangsung selama ±1,5 jam tersebut, didapatkan kesepakatan bahwa masyarakat bersedia untuk iuran sebanyak Rp 5.000,-/bulan/ rumah untuk tambahan biaya emeliharaan sumber air bersih dan menyepakati 3 orang sebagai “garin air”/ pemantau dan pemelihara air bersih. Dalam kesempatan tersebut JEMARI Sakato juga meminta penambahan kran-kran air di beberapa titik yang dibiayai dari kas yang masih ada.  “JEMARI Sakato hanya berperan sebagai fasilitator, segala keputusan didasarkan pada hasil musyawarah masyarakat. Hal ini penting untuk menjaga partisipasi masyarakat dan masyarakat yang paling tahu dengan kebutuhannya.” Ujar Khairul Fahmi,S.Sos., M.Si, Direktur Eksekutif JEMARI Sakato Sumbar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *