Kelompok  Siaga Bencana merupakan suatu hubungan interaksi sosial yang harus dibangun dengan sistem yang partisipatif, mengedepankan prinsip keterbukaan, tanggung jawab , memperhatikan kapabilitas individu dalam pembagian peran, dan dikolaborasi dengan budaya lokal yang menjadi nyawa masyarakat dalam Pengurangan Risiko Bencana

(Niko Rinaldi, : Hasil pembelajaran kegiatan Pendampingan JEMARI Sakato, 2012-2013 di Kabupaten Agam)

 

Manusia di dalam kehidupannya tentu merupakan bagian dari sebuah kelompok, yang saling mempengaruhi dan berkontribusi dalam setiap interaksi yang terjadi.  Membina hubungan satu sama lainnya, mengemukakan aspek kepentingan dan kebutuhan serta menjelajahi berbagai wahana keberlangsungan hidup adalah menjadi prioritas manusia untuk berkelompok. Sehingga hanyalah sebuah  mitos apabila di kehidupan ini manusia bisa hidup dengan sendirinya.

Dalam konteks pengurangan risiko bencana, membentuk sebuah kelompok siaga bencana adalah sebuah keharusan. Pengalaman bencana yang sering terjadi akhir-akhir ini seperti tsunami Aceh, Gempa Nias, Tsunami Mentawai, gunung meletus di Sleman Yogyakarta, telah menyampaikan pesan alam untuk mengarusutamakan keberadaan kelompok ini di setiap daerah. Kelompok ini akan berperan penting dalam membangun budaya siaga bencana di daerahnya. Sistem sosial budaya yang terbangun dan tertanam dalam tatanan kemasyarakatan menjadi suatu hal yang harus diperhatikan dalam membangun kelompok ini.

Diskusi KSB

Diskusi Pengorganisasian KSB dengan kelompok perempuan

 

Awal pembentukan kelompok merupakan langkah awal dalam mengoptimalkan sumber daya komunitas untuk terlibat aktif. Pembulatan mufakat dan komitmen secara partisipatif adalah dua prinsip yang harus dibangun dalam upaya pembentukan kelompok. Dalam proses ini ada semacam dedikasi sosial yang mengakomodir nilai–nilai lokal dalam sistem klasifikasi kelompok untuk menciptakan kesinambungan antara pengalaman, budaya lokal dan prinsip-prinsip yang harus ada dalam pengurangan risiko bencana. Mekanisme yang dibangun dalam hal ini, haruslah menekankan pada mufakat bersama dan kebutuhan yang ada.

 

Mekanisme pembentukan kelompok 

Proses pembentukan kelompok menjadi suatu hal yang harus dilakukan dan dipertimbangkan dalam setiap aspek sosial, budaya, dan politik, sebagai berikut:

  1. Aspek sosial

Aspek ini menjurus pada pertimbangan – pertimbangan akan kebutuhan sosial dari sebuah kelompok siaga bencana. Paradigma untuk menjadi suatu daerah yang siaga budaya harus tertanam. Selain itu tingkat pengetahuan, pendidikan dan responsitas terhadap sebuah kelompok juga harus dipertimbangkan. Identifikasi tingkat keragaman pengetahuan dan kapasitas orang-orang di dalam kelompok yang akan dibentuk, sehingga transformasi pengetahuan bisa terjadi di dalam kelompok.

  1. Aspek Budaya

Pertimbangan budaya menjadi terientegrasi ketika pola-pola kebiasaaan di masyarakat berkontribusi dalam pengorganisasian masyarakat yang meliputi sistem pengambilan keputusan, peran tokoh berkepentingan dan sistem kebiasaan yang mengakar lainnya dalam tatacara pembentukan kelompok. Budaya ini akan menjadi kekhasan tersendiri bagi kelompok untuk mampu bertahan dalam mengorganisasikan masyarakat.

  1. Aspek Politik

Bagaimana proses pengambilan keputusan dan kebijakan akan dirumuskan merupakan dimensi politik yang harus dipertimbangkan. Ketika membentuk suatu kelompok, ini akan menjadi pertimbangan, dalam memutuskan siapa, apa, bagaimana dan mengapa suatu kelompok itu harus dibentuk. Kewenangan, kekuasaan dan kepentingan akan bermain disini dan akan menjadi fokus dalam pembentukan suatu kelompok.

Ketiga dimensi ini, harus diakomodir ketika mengawali pembentukan suatu kelompok. Paling tidak mekanisme pembentukan kelompok bisa digambarkan seperti berikut:

Pola Pembentukan Kelompok

Pola Pembentukan kelompok

Sumber : Dokumen deklarasi Kelompok Siaga Bencana, Arsip JEMARI Sakato, 2011.

 

Kelompok, merupakan modal sosial yang harus dibangun secara partisipatif dan representatif. Pola-pola pembangunan modal sosial ini, haruslah dimulai dengan pengidentifikasian individu yang akan menjadi penggerak kelompok. Identifikasi ini bisa dilakukan secara partisipatif dengan menilai karakter personal, minat, tingkat pemahaman dan basis pengalaman serta pola-pola kerja sosial individu dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat. Proses ini merupakan bagian integral dalam membangun sistem komunal dalam pembangunan kelompok. Ketika kelompok ini dibangun, maka modal sosial ini akan berkembang menjadi suatu pola kerakyatan yang mengakar pada dimensi-dimensi sosial vertikal maupun horisontal dengan pembangunan inisiasi dan kontak sosial untuk mengorganisasikan.  Sistem budaya komunal dalam pembangunan pola-pola kelompok ini, akan menjadi suatu perhatian penting dan indikasi bagi suatu kelompok untuk menjadi bagian integral dari  sistem kerakyatan.

POJOK TEORI

Dalam melihat dinamika kelompok, Teori Interaksi  (George Homans) mendasarkan pada interaksi-interaksi dan sentimen-sentimen (perasaan/emosi). Ada Tiga dimensi penjelas pembentukan kelompok dalam teori interaksi:

•   Semakin banyak aktivitas seseorang yang dilakukan bersama dengan orang lain, semakin beraneka ragam interaksinya, yang pada akhirnya membangun sentimen yang semakin kuat diantara mereka.

•   Semakin banyak interaksi diantara orang-orang, maka semakin banyak kemungkinan aktivitas-aktivitas dan sentimen yang ditularkan (shared) pada orang lain.

•   Semakin banyak aktivitas dan sentimen yang ditularkan dan semakin sentimen seseorang dipelajari orang lain, maka semakin banyak kemungkinan ditularkannya aktivitas dan interaksi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *