Manusia merupakan sebuah kelompok, kelompok yang tak mungkin menjadi bahagian sendiri dan akan selalu berjalan sesuai aturan hukum yang berlaku. Ketika satu orang merasa dirinya adalah suatu kelompok, maka akan lahir sebuah kebutuhan untuk bekerjasama, dimana tarik menarik kepentingan akan suatu kebutuhan akan mewarnai interaksi kelompok. Kelompok juga akan lahir dari kepentingan-kepentingan individu yang kemudian disatukan dalam sebuah visi bersama dalam rangka mewujudkan suatu harapan bersama.

Proses penggerakkan kelompok, menjadi bahagian penting dalam sebuah diktat pemberdayaan. Ketika ini semua disusun menjadi sebuah ikatan antar individu, maka akan memunculkan sebuah kepentingan dalam mencapai satu tujuan. Berbagai sisi egoisme, kepentingan, persepsi serta pola kebiasaan akan selalu mewarnai proses pergerakan kelompok. Terkadang kerikil pemecah ataupun karakter “apel busuk” dalam sebuah kelompok akan menjadi penentu naik turunnya dinamika perkembangan kelompok.

TOKOH

Syafriadi

Sapriadi adalah salah seorang aktivis KSB di Nagari Canduang Koto Laweh, Sumatera Barat. Pria yang berumur  41 tahun ini, lahir di Jorong Bingkudu, 12 Oktober tahun 1972. Beliau mengakui bahwa menjadi pekerja sosial merupakan suatu hobi, dalam melihat realitas masyarakat. Kegiatan sosial  ditekuninya sejak menduduki  kursi MTSN (setingkat SMP). Beliau juga aktif dalam kegiatan sosial budaya dan  pertanian. Tantangan yang paling dirasakan beliau dalam menggerakkan masyarakat adalah proses penerimaan masyarakat dan kebutuhan ekonomi.

Di Sumatera Barat, proses menggerakkan kelompok siaga bencana[2] harus dilakukan mulai saat ini. Hal ini mengingat beberapa pengalaman peristiwa kebencanaan dan potensi bencana yang ada di Propinsi “urang awak” tersebut. Banyak hal yang menjadi pembelajaran mulai dari proses pembentukan, doktrin kerelawanan, penguatan kelompok siaga bencana (KSB), hingga penyusunan perencanaan dan advokasi. Proses ini tentu tidak lepas dari filosofi yang berkembang di masyarakat Minangkabau-Sumatera Barat. Masyarakat yang berpegang teguh dengan filosofinya “Alam Takambang Jadi Guru”. Alam dijadikan sebagai tempat belajar tentang bagaimana alam berperilaku, karakter kebencanaan dan tanda-tanda alam yang sering kali dijadikan sebagai sistem peringatan dini mereka.Ketika sebuah kelompok dihadapkan dengan sebuah persoalan pengurangan risiko bencana[1], maka akan muncul tiga sisi yang akan saling bertentangan yaitu kerelawanan, kebutuhan dan keselamatan hidup orang banyak. Kerelawanan muncul ibarat 2 (dua) sisi mata uang, satu sisi relawan dipandang sebagai penyisihan sebahagian aktivitas untuk kepentingan sosial dan sisi lain dipandang sebagai sebuah motorik pergerakan yang terhambat dengan kepentingan ekonomi dan kebutuhan hidup. Kebutuhan sering kali menjadi pembagi negoisasi kerelawa-nan, aktivitas untuk mencapai sebuah ke-butuhan dihadapkan dengan kenyataan ke-berlangsungan hidup, sedangkan keselama-tan menjadi sebuah mata kunci dalam sebuah kegiatan pengurangan risiko bencana. Tiga sisi ini akan menjadi sisi yang memiliki daya tarik menarik antara satu dengan yang lainnya.

Beberapa filosofi lainnya juga melekat dalam proses pergerakan kelompok siaga bencana ini. Salah seorang aktivis Kelompok siaga bencana di sebuah Nagari Canduang Koto Laweh di Sumatera Barat, dalam sebuah workshop pengurangan risiko bencana menyampaikan bahwa KSB di Sumatera Barat Ibarat “Itiak di sawah nan laweh”. Seekor itik dikenal sebagai hewan yang memiliki karakter disiplin yang selalu beriringan ketika berjalan dan mengenal alamnya. Namun ketika dia dihadapkan dengan wilayah yang luas, itik akan menjadi sosok yang kebingungan tanpa arah, tanpa pedoman dan berpijak. Begitu juga halnya dengan KSB, yang merupakan kumpulan dari orang-orang yang peduli dan menyadari pentingnya sebuah proses kesiapsiagaan, menyelamatkan di saat bencana dan memulihkan masyarakat setelah bencana terjadi.

Filosofi-filosofi ini, sebenarnya telah berkembang lama dan mendarah daging dalam masyarakat Sumatera Barat. Filosofi ini adalah sebuah figura dalam potret kehidupan masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat. Dalam sebuah forum diskusi pengurangan risiko bencana, setidaknya telah teridentifikasi beberapa filosofi masyarakat Minangkabau yang lahir dari tatanan nilai dan kebiasaaan masyarakatnya dalam menghadapi bencana.

Tabel 1

 Filosofi Masyarakat Sumatera Barat yang Berhubungan Dengan Pengurangan Risiko Bencana

Filosofi Makna
Pra Bencana
Ingek sabalun kanai, bakulimek sabalun habih. Kesiapsiagaan, menjaga keseimbangan  sumber daya. Pemeliharaan hutan dan air dan penataan ruang berdasarkan kearifan lokal.
Ado Nambek dimakan, Indak ado baru dimakan. Melambangkan Lumbung masyarakat, ketahanan pangan. Perkembangan nilai ekonomi alternatif, dalam melakukan manajemen hasil sumber daya alam.
Jalan dialiah dek urang paladang, cupak dialiah dek urang manggaleh. Terjadinya Pemudaran nilai-nilai kearifan lokal. Perubahan tatanan di lingkungan dan media, yang menyebabkan intervensi dalam tatanan nilai secara pemerintahan, hukum, dan perubahan pola hidup. Kelonggaraan ikatan kekerabatan.
Tingkuluak Habih, Kupiah Habih. Melambangkan Manajemen keuangan keluarga.
Sio-sio utang tumbuah Pekerjaan sia-sia yang berakibat buruk, Misalnya: membuat rumah tidak sesuai dengan standar aman gempa, di daerah aliran sungai, di kaki bukit, dll. Artinya mengerjakan sesuatu yang meningkatkan kerentanan.
Gabak dihulu tando ka hujan, cewang dilangik tando ka paneh Mempelajari tanda-tanda alam.
Karam saparahu. Kehabisan tokoh yang menyebabkan tidak ada celah untuk penyelamatan. Hilangnya nilai-nilai luhur yang disebabkan hilangnya panutan, sehingga generasi baru tidak memiliki pedoman yang kokoh dalam sistem yang kuat. Hilangnya figur nilai adat, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Saat Bencana
Bumi runtuah, langik tahaban Mengambarkan terjadinya proses bencana. Masyarakat harus mengerti dengan karakter alam yang bisa menyebabkan bencana dan kepedulian terhadap dampak risiko.
Banyak ngangak, pado ngango. Ketika terjadi bencana, masyarakat tidak bisa bertindak dan mengambil keputusan untuk penyelamatan diri dan lingkungan.
Pasca Bencana
Tatungkuik samo makan tanah, tatilantang samo makan angin. Nilai ini digunakan dalam proses pembagian bantuan pasca bencana. Masyarakat berhak untuk mendapatkan bantuan sesuai dengan kondisi yang ditanggung sesuai azas kesamarataan dan keadilan.
Kampuang ba nan tuo, rumah batunganai. Dalam pengambilan keputusan terkait dengan kondisi pemulihan, maka proses musyawarah menjadi hal utama yang harus dilakukan, yang akan dipimpin berdasarkan hierarki adat, ulama dan cadiak pandai. Misalnya musyawarah perbaikan bangunan dan lingkungan, lahan, dll.
Sakik sa aduah, damam sa arang. Sakik surang, damam barampek, dua baleh ma arangan. Nilai ini akan menjadi pedoman pada saat pemulihan, dimana nilai-nilai senasib sepenanggungan menjadi kekuatan masyarakat pada saat rehab rekon, seperti: pembersihan lingkungan pasca bencana, pemulihan mental, pemulihan ekonomi dan membantu dalam proses pengungsian.

Sumber : Hasil Diskusi Tim Perumus Regulasi (Naskah Akademis dan draft Perda) Penanggulangan Bencana Dalam Workshop Penyusunan Naskah Akademis Perda Penangulangan Bencana Kabupaten Agam tanggal 6-8 November 2013

 

Beberapa filosofinya menjadi potret kehidupan masyarakat Minangkabau yang menjadi sebuah inspirasi dalam memberikan kesiapsiagaan masyarakat dalam upaya pengurangan risiko bencana.

[1] Selanjutnya akan digunakan istilah PRB

[2] Selanjutnya akan digunakan istilah KSB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *