Sebagai daerah yang rawan terhadap bencana, Sumatera Barat khususnya Kabupaten Agam patut mendapatkan perhatian yang serius baik berupa dukungan ekonomi masyarakat sampai dukungan regulasi yang sehat agar masyarakat dapat memaksimalkan segala potensinya dalam menghadapi bencana. Kita sangat mengetahui bahwa Agam adalah salah satu kawasan multi hazard, mulai dari Banjir, tanah longsor, gempa bahkan Tsunami menjadi ancaman yang selalu menghantui kehidupan masyarakatnya, maka dari pada itu baik pemerintah, sektor swasta maupun Organisasi Masyarakat Sipil wajib mengambil peran dalam hal penguatan masyarakat.
Bencana bisa datang kapan saja namun tidak seharusnya membuat kita takut, karena semua yang terjadi di atas dunia ini adalahkehendakNya. Namun sebagai seorang manusia kita wajib mewaspadai bencana selain juga meningkatkan keimanan (religius) kita juga wajib meningkatkan kapasitas diri maupun kelompok dalam menghadapi bencana agar dapat meminimalisir dampak negatif. Bayangkan saja menurut laporan BPBD Kabupaten Agam pada bulan januari yang lalu telah tejadi banyak bencana, salah satunya Longsor yang terjadi di delapan titik di Kabupaten Agam. Tentu selain menggangu aktifitas masyarakat, dan juga selain melahirkan kekhawatiran terhadap jatuhnya korban jiwa, hal yang paling menakutkan adalah lumpuhnya perekonomian. Lumpuhnya perekonomian sebuah daerah tentu dikarenakan kegiatan ekonomi masyarakatnya yang collapse, matinya kegiatan jual beli pada level bawah dengan otomatis pula berdampak pada runtuhnya perekonomian daerah dikarenakan investor yang enggan untuk menamkan modalnya.
Menjadi Tugas Bersama
Kita sangat mengetahui bahwa Pemerintah ataupun Negara diciptakan hanya semata-mata untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya (Promoting a Publik welfare) .Untuk mencapai kesejahteraan tersebut maka Negara harus menjadi The state Competent. Menurut Rodinneli dan Chema menyebutkan bahwa untuk mencapai The state Competent pemerintahan sebuah negara harus diartikan sebagai pemerintahan kolaborasi (collaborative Governance) dimana pemerintahan Negara yang bersangkutan harus siap menciptakan bekerja sama dalam spirit kemitraan baik dengan sektor swasta, maupun organisasi masyarakat sipil dalam pelayanan masyarakat (create collaboration or partnership with the private sector and NGO for service delivery).
Menjawab hal tersebut Organisasi Masyarakat Sipil atau yang dikenal dengan Lembaga Swadaya Masayarakat di Indonesia (LSM), ikut berpastisipasi dalam percepatan perancangan Peraturan Daerah mengenai Penanggulangan Bencana (Perda PB) di Kabupaten Agam, Salah satu LSM yang berperan dalam hal tersebut adalah JEMARI Sakato. JEMARI sakato merupakan LSM yang bergerak di Sumatera Barat dengan fokus sentral pada Advokasi Penggaran dan Kebijakan Publik. Karena kita sebagai masyarakat meyakini bahwa terkait hal Kebencanaan maupun masalah sosial lainnya adalah tanggung jawab kita bersama bukannya hanya pemerintah.

Tangguh Bencana

Sebagai bagian dari masyarakat dunia, Indonesia berperan aktif dalam hal mengurangi resiko Bencana. Salah satunya yakni turut menyepakati “Sendai Framework for DRR” yang membahas empat poin prioritas aksi dalam mengurangi risiko serta kerugian akibat bencana. Empat poin tersebut meliputi 1) Memahami resiko bencana, 2) Memperkuat tata kelola risiko bencana untuk tata kelola risiko, 3) Berinvestasi dalam pengurangan resiko bencana untuk ketangguhan, dan 4) Meningkatkan kesiapsiagaan Bencana untuk respon yang efektif, dan Membangun kembali dengan lebih baik dalam pemulihan, rehabilitasi dan rekonstruksi.

IMG_9050

12661995_10204392055836191_5496169721465676051_n

Menuju Indonesia tangguh Bencana, salah satu strategi yang dilakukan adalah menjadikan Kabupaten/Kota Tangguh Becana pula. Didasari oleh semangat itu, Kabupaten Agam yang dikategorikan sebagai Kabupaten yang rawan terhadap Bencana wajib untuk memperkuat tekat menuju Agam Tangguh Bencana. Dan mempercepat legalisasi Perda PB adalah langkah kongkrit yang harus segera dilaksanakan pada saat ini.
Secara konstitusional, Perda PB sudah dianjurkan oleh UU no 24 tahun 2007 tentang Bencana. Masing-masing daerah dianjurkan untuk membuat regulasi terkait penanggulangan Bencana sesuai dengan situasi serta kondisi yang ada, dan Kabupaten Agam adalah salah satu Kabupaten yang belum memiliki regulasi yang mengatur mengenai Penanggulangan Bencana, maka dari pada itu dirasa perlu bagai seluruh stakeholder untuk membahas percepatan regulasi terkait kebencaan agar dapat segera diwujudkan dalam bentuk Perda.

IMG_9060

Terdapat beberapa poin yang menjadi substansi dalam rancangan Perda tersebut yakni 1) Penyelenggaran Penanggulangan Bencana, 2) Tanggung Jawab Pemda, 3) Kelembagaan, Hak, Kewajiban, dan Peran Serta Masyarakat, 4) Peran Lembaga serta Lembaga-lembaga, 5) Sumber dan Penggunaan dana, serta Pengelolaan Bantuan Penaggulangan Bencana, 6) Ketentuan Pidana, 7) Penyelesaian Sengketa dan Gugatan, dan 8) Pengawasan, dan Pelaporan Pertanggungjawaban.
Rancangan Perda PB sebenarnya sudah lama dirampungkan oleh BPBD Kabupaten Agam namun karena banyaknya pintu yang harus dilalui untuk mencapai legalisasinya membuat Perda PB tersendat ditengah jalan. Melalui Program Memperkuat Ketahanan Masyarakat di Daerah Rawan Becana yang diinisiasi oleh JEMARI Sakato, diharapkan dapat membantu Kabupaten Agam dalam percepatan legalisasi Perda PB selain juga turut memperkuat kapasitas masyarakat. Dengan memperkuat masyarakat pada tataran grass root melalui dukungan usaha masyarakat yang masuk dalam kategori rentan maupun UMKM yang berada dikawasan rawan bencana, JEMARI Sakato juga berusaha menggaet Sektor Swasta lokal maupun yang ada di provinsi untuk dapat mengimplementasikan Tanggung Jawab Sosialnya (CSR) kepada masyarakat khususnya Kabupaten Agam.
Advokasi Kebijakan Publik inilah yang menjadi isu sentral bagi JEMARI Sakato dalam menjalankan Fungsinya Sebagai LSM selain nantinya melakukan Advokasi Pengganggaran agar dana-dana yang bertujuan untuk membangun Agam Tangguh Bencana dapat terwujud. Semua untuk Masyarakat yang lebih Baik “for better Society”.

Delly Ferdian,
Analist Anggaran dan Kebijakan Publik JEMARI Sakato

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *