Kini (katanya) “Pasar Raya” Padang telah dibenahi dengan cukup baik, kemacetan telah terurai, tak nampak lagi kesembrautan disana-sini, bahkan menurut sebagian orang, pasar yang menjadi pusat keramaian Kota Padang, telah mampu memberikan suasana yang cukup nyaman. Namun hemat saya, tak ada perubahan yang signifikan dari wajah pasar raya kini, karena pasar raya kini tak ada bedanya dengan pasar tradisional pada umumnya, tak ada sesuatu yang menarik dari pasar ibu kota ini.
Kendati pun demikian, saya juga tidak ingin mengatakan bahwa kinerja pemerintah belum maksimal, saya juga tak ingin mengatakan kerja pemerintah ibarat kata orang minang hanya “lapeh makan”. Sebab tuntutan masyarakat yang dulunya santer terkait pembenahan pasar raya agar terlepas dari kesembrautan kini perlahan demi perlahan telah terjawab, namun sejatinya pemerintah tidak boleh berhenti sampai disitu, harus ada gebrakan yang dilakukan pemerintah agar pasar raya menjadi icon Kota Padang yang kita cintai ini.
Saya memang bukan orang Padang asli, bahkan bukan orang minang (Lahir di Palembang, besar di Padang). Namun kini, saya telah menjadi warga kota Padang (ber-KTP Padang) dan untuk itu sebagai warga Kota Padang yang mencintai kota ini dengan sepenuh hati maka ketika saya mempunyai gagasan yang cukup menarik, bolehlah saya ikut menyumbang untuk membangun Kota Padang agar lebih baik. Satu hal yang ingin saya sampaikan kepada pemerintah Kota Padang, adalah sebuah gagasan kecil namun cukup menarik, yakni menjadikan pasar raya sebagai pasar wisata.
Ide kecil ini telah lama saya pendam, selama lebih dari sepuluh tahun saya berdomisili di Kota Padang, menurut saya, wajah pasar raya Padang kini tidak lebih baik dari pasar raya Padang dahulu, khususnya ketika saya menginjakkan kaki kekota ini. Sekitar 11 tahun yang lalu, saya disekolahkan oleh keluarga saya di SMPN 2 Padang, keputusan untuk memindahkan sekolah saya ke Kota Padang adalah karena kota Padang terkenal sebagai kota Pendidikan. Padahal berat hati untuk melangkah meninggalkan orang tua yang berdomisili di Pekanbaru, sebuah kota metropolitan yang dikala itu sedang gencar-gencaranya melakukan pembangunan. Pembangunan pesat Pekanbaru terutama pada sektor bisnis, telah membuat saya merasa nyaman, sehingga cerita masa kecil saya dikala itu, tidak jauh dengan modrenisasi yang ditawarkan oleh pesatnya pembangunan Negeri lancang Kuning (Pekanbaru Kota Bertuah).
Sektor bisnis di Pekanbaru telah menjelma sebagai sarana rekreasi keluarga yang nyaman, sehingga tak ayal jika Pemerintah Kota Pekanbaru begitu royal dalam menggelontorkan dana untuk APBN, apalagi sektor minyak bumi dan sawit begitu kuat perannya. Kenyamanan yang ditawarkan kota Pekanbaru pada saat saya masih berseragam putih biru memang tidak terasa di Kota Padang, hanya Pasar Raya sebagai salah satu pusat perbelanjaan masyarakat kota Padang yang cukup populer, nuansa tradisional masih terasa, dan menurut saya tidak jauh berbeda atmosfernya dengan pasar raya pada saat ini.
Pasca gempa 2009 yang melanda kota Padang dan sekitarnya, membuat aktifitas Pasar Raya mulai sembraut, pasar raya tak dapat memberikan kenyamanan. PKL bertaburan dimana-mana, merubah wajah Pasar Raya menjadi suram.
Optimisme Pemerintah
Namun kini, Pemerintah Sumatera Barat sedang alot wara-wiri mempromosikan Pariwisata, tampaknya pun Pemerintah Pusat mendukung semangat tersebut. Melalui Kegiatan MNEK (Multilateral Naval Exercise Komodo) silam, akhirnya Gubernur Irwan Prayitno berhasil meyakinkan Presiden Jokowi untuk menggelontorkan anggaran demi menunjang pembangunan Sumatera Barat yang difokuskan untuk mendukung sektor Pariwisata.
Anggaran yang telah disetujui tersebut berupa anggaran untuk pembangunan infrasturuktur jalan lintas Padang-Pesisir Selatan, percepatan jalan lintas Padang-Sicincin dan Bukittinggi-Pekanbaru, Penataan kembali kawasan wisata mandeh, infrastrukutur di bidang perhubungan (laut, darat, dan kereta api), Penambahan cakupan penerima kartu monitoring seperti KIS, penataan tata kelola dan pembenahan infrastruktur diwilayah bahari, dan perbaikan serta penambahan infrastruktur prasana jalan dan tata ruang pemukiman di beberapa daerah. (Padek,13/04/2016)
Melalui RPJMD pun, Pemerintah mematok 10 poin prioritas, dan yang terutama adalah Pengoptimalan sektor Pariwisata. Untuk itu, wajib kiranya bagi Kota Padang mengembangkan spot wisata baru untuk menjawab semangat tersebut. Pantai Padang memang telah berbenah, tak ada lagi tenda-tenda yang ceper menjamur di tepian pantai. Monumen konferensi IORA dan Monumen Merpati perdamaian tampaknya menjadi spot pengambilan gambar yang menarik bagi wisatawan yang melancong ke Pantai Padang. Begitu pun pantai “Air Manis”, walaupun akses masih cukup sulit menuju ke lokasi, namun pantai yang terkenal dengan dongeng malin kundang ini juga menjadi destinasi wajib ketika berkunjung ke kota Padang. Lalu apakah Kota Padang hanya mengandalkan sektor wisata Pantai ? saya harap jangan demikian.
Pasar Wisata
Karena itu, saya berfikir bagaimana caranya menyulap Pasar Raya Padang sebagai pasar wisata, layaknya kota-kota maju di pulai jawa. Pertama yang harus dilakukan tentunya adalah menertibkan PKL (Pedagang Kaki Lima). Untuk masalah PKL tampaknya sudah mulai dijawab oleh sebuah komunitas yang menamakan dirinya “Sahabat PKL” melalui gagasan PKL Hebat-nya.
Berdasarkan penyampaian Miko Kamal selaku penggerak komunitas Sahabat PKL, terdapat lima indikator penilaian mengapa PKL tersebut layak dianggap Hebat. Pertama, PKL tidak mempergunakan fasilitas umum dan sosial dalam berjualan, kecuali yang mengantongi izin tertulis dari Pemko Padang. Kedua, lingkungan PKL berjualan selalu bersih dan rapi. Ketiga, PKL memiliki daftar harga barang, makanan atau minuman yang mereka jual. Keempat, PKL yang bersangkutan memiliki identitas yang jelas baik kartu tanda penduduk maupun surat izin mengemudi. Kelima, PKL dan anak buahnya (kalau ada) ramah dalam melayani pembeli. Tentu dengan adanya PKL Hebat ini, satu masalah kota Padang dapat terselesaikan yakni masalah tata ruang, PKL yang serius untuk menggeluti usahanya dapat direlokasi ketempat yang lebih baik.
Selanjutnya, trotoar jalan dapat diperlebar agar memberikan kenyamaan bagi pejalan kaki, jika perlu area pasar raya dibuat khusus untuk pejalan kaki atau car free. sepanjang jalan permindo sampai ke bundaran pasar (depan mesjid taqwa), jika disulap dengan baik tentu akan mampu menjadi magnet bagi para wisatawan yang ingin berbelanja. Bercontoh pada jalan Braga di Kota Bandung yang merubah jalan aspal menjadi jalan dengan batu andesit, semua itu karena dahulu braga merupakan sebuah kawasan wisata belanja yang sangat terkenal pada zaman Kolonial Belanda. Sampai akhirnya, jalan braga menjadi macet dan sembraut lalu pemerintah hadir dengan gagasan baru sehingga menjadikan Braga sebagai kawasan pasar wisata yang menawarkan sensasi noltagia zaman belanda kuno. Apakah itu semua dapat diterapkan di Pasar Raya Padang ? tentu bisa .
Apalagi 19 Mei 2015 silam, melalui Keputusan Walikota Padang Nomor 161 Tahun 2015, Walikota Padang menetapkan kawasan Permindo sebagai area percontohan yang ramah terhadap penyandang disabilitas. Sebagaimana yang tertera di dalam Keputusan tersebut, Walikota memerintahkan seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota Padang sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing untuk melaksanakan pembenahan sarana dan prasarana yang telah ada, menyediakan petunjuk dan rambu-rambu lalu lintas, menyediakan bangku-bangku istirahat, menyediakan tong sampah, dan menyediakan toilet di Jalan Permindo. Semoga usulan saya kali sejalan dengan niat pemerintah untuk mengembangkan sektor pariwisata dan tentunya juga beriringan dengan menguatkan ekonomi lokal masyarakat, menjadikan pasar raya sebagai pasar wisata.

19222_10203162962389623_3799241052026160725_n

Oleh : Delly Ferdian
Permerhati Ekonomi Politik JEMARI Sakato Sumatera Barat

telah diterbitkan di harian Padang Ekspres, 16 Mei 2016 http://m.padek.co/detail.php?news=60660

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *