Jaringan KSB

Mempersiapkan masyarakat untuk sebuah kesiapsiagaan bukanlah pekerjaan gampang. Namun bukan berarti tidak bisa dilakukan. Program Membangun Ketahanan masyarakat (Building Resilience) yang dilaksanakan JEMARI Sakato melalui dukungan Oxfam yang dilaksanakan di 2 Ke-Nagarian dengan karakter resiko bencana yang berbeda (laut dan gunung) berjalan dengan perlahan namun pasti. Kegiatan yang dilaksanakan di Nagari Tiku Selatan dan Nagari Canduang Koto laweh berjalan perlahan karena kegiatan ini dilaksanakan di 10 Jorong dengan tenaga fasilitator JEMARI hanya 2 orang. Sebuah tantangan besar dan kondisi ini disiasati dengan pelaksanaan program secara hati-hati agar lembaga tidak kehabisan nafas sementara capaian program belum terealisasi semua dengan sempurna.

Namun demikian, setelah lebih 1,5 tahun berjalan program ini mulai menampak perubahan ke arah yang lebih baik. Kelompok Siaga Bencana yang dibentuk di 10 Jorong mulai terlihat dan telah diberikan pelatihan secara bertahap. Belum tuntas memang, karena dari sisi biaya juga perlu perhitungan matang  agar tidak terjadi pemborosan. Namun semangat KSB mulai menampakkan cahaya terang dan menuju ke arah kemajuan.

Dimulai dari pelatihan ke pelatihan, diskusi dan workshop dengan banyak pihak yang secara tidak langsung membangun rasa percaya diri. Hal ini pertama kali terlihat terutama pada saat pelaksanaan pelatihan peningkatan kapasitas KSB Nagari Canduang Koto laweh dan Nagari Tiku Selatan yang diadakan di kota Bukittinggi pada kurun waktu 6 bulan pertama pendampingan JEMARI. Dalam pelatihan ini, 10 KSB yang didampingi juga oleh Wali Jorong masing-masing diberi pelatihan tentang teknik pengorganisasian masyarakat, menyikapi dinamika kelompok dan pemahaman tentang proses perencanaan penganggaran  di daerah.

JAringan KSB 3

Selain itu, KSB bersama aparat Nagari juga diberikan pemahaman tentang bagaimana mengintegrasikan hasil dokumen rencana aksi masyarakat (RAM) yang disusun berdasarkan pelaksanaan kajian kerentanan dan kapasitas di masing-masing Jorong ke dalam Dokumen RPJM Nagari. KSB dan pihak Jorong/Nagari juga mendapat pemahaman tentang bagaimana menyusun prioritas untuk mendapatkan peluang besar untuk kegiatan yang akan diusulkan dalam pelaksanaan Musrenbang Nagari serta bagaimana membangun jaringan untuk kerjasama dengan pihak lain.

Hal paling menarik dari pelaksanaan pelatihan ini adalah kesempatan KSB, Jorong dan Nagari untuk bertemu dengan pihak mitra seperti perusahaan, Perbankan, perguruan tinggi serta Pemerintah Agam sendiri. Serta sebuah lembaga BUMN yang mengelola CSR BUMN di Indonesia yaitu PNM (Permodalan Nasional Madani). JEMARI Sakato menjadikan forum ini sebagai sarana untuk “mempertemukan” KSB dengan pihak lain yang potensial untuk dijadikan patner KSB. Dengan sedikit memoles bentuk kegiatan pelatihan, maka di hari terakhir pelatihan, pihak JEMARI mengundang mitra potensial dalam kegiatan lokakarya kemitraan dengan semua peserta pelatihan.

Harapan besarnya adalah mereka/KSB dapat membicarakan dan menyuarakan kebutuhan akan PRB kepada pihak lain. Dalam kesempatan “uji nyali KSB” yang dihadiri oleh pihak perusahaan, Perbankan, Perguruan Tinggi dan SKPD di lingkungan Pemerintah kabupaten Agam serta PNM, ternyata KSB secara terstruktur sudah dapat  dan berani menyampaikan persoalan dan kebutuhan mereka akan dukungan untuk PRB di Nagari masing-masing. Dan yang tidak diduga sama sekali oleh KSB adalah tanggapan yang diberikan oleh para mitra yang diundang. Seperti yang disampaikan oleh perwakilan Bank Nagari, bahwa KSB jika memang lembaga yang diakui di Nagari, dipastikan bisa mengakses beberapa skema program pendanaan yang ada selagi relevan dengan agenda KSB. Demikian juga dengan pihak Perguruan tinggi yang hadir, mereka menyampaikan bahwa ada peluang program KKN mahasiswa diarahkan untuk isu PRB di Nagari rawan bencana. Dan KSB bisa menjadi patner mahasiswa nantinya.  Bahkan dalam sesi tersebut, pihak perguruan tinggi (IPDN) mengusulkan agar Pemkab Agam menyurati pihak IPDN dan menjalin Kerjasama antar instansi agar IPDN dapat memikirkan bentuk kegiatan yang dapat dikerjasamakan. Setidaknya pihak kampus IPDN bisa menyediakan lokasi training untuk KSB di kampus mereka.

Peluang terbesar adalah seperti yang disampaikan pihak PNM yang kebetulan diminta sebagai narasumber. Bahwa salah satu syarat untuk bisa mengakses pendanaan dari PNM adalah adanya kelompok dan isu yang dikelola jelas dan bermanfaat.  PNM (Bpk. Jenhenryco) juga menjelaskan bahwa persoalan utama kelompok-kelompok di masyarakat biasanya adalah pada pengelolaan keuangan. Untuk itu, PNM akan memberikan konsultasi gratis tentang keuangan jika KSB nantinya dianggap layak untuk memndapatkan dana pinjaman.

Diluar semua hal diatas, hal yang perlu dicatat disini adalah telah mulai lahirnya Percaya Diri KSB untuk berkomunikasi. Dan saat ini, setelah pendampingan JEMARI akan berakhir beberapa bulan lagi, kawan-kawan anggota KSB mulai menyadari bahwa salah satu kemajuan berarti yang mereka dapatkan adalah bahwa mereka ternyata memiliki banyak teman, setidaknya untuk berbagi tentang bagaimana membuat masyarakat mereka siap untuk upaya positif Pengurangan Resiko Bencana.

 

(Syafrimet Azis/Direktur Eksekutif JEMARI Sakato).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *