Para peserta bertepuk tangan ketika Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Agam, Bambang Warsito yang mewakili Bupati Agam menyatakan akan memberikan dukungan sepenuhnya kepada Nagari Canduang Koto Laweh dan Tiku Selatan dalam upaya Pengurangan Resiko Bencana. “Di Bulan Oktober 2012 ini Pemerintah Kabupaten Agam akan melakukan pengukuhan terhadap seluruh Kelompok Siaga Bencana (KSB) yang sudah terbentuk dan mendorong terbentuk KSB di semua Jorong atau Nagari”. Sangat diharapkan agar kedua Nagari ini segera menginisiasi terbentuknya KSB untuk memberikan pemahaman bagi masyarakat tentang Pengurangan Resiko Bencana dalam rangka membangun Ketahanan masyarakat terhadap bencana.

Diskusi KSB 2

Kalak BPBD kabupaten Agam saat acara pembukaan Workshop Membangun Ketahanan Masyarakat di Nagari Tiku Selatan dan Canduang Koto Laweh didampingi oleh Direktur Eksekutif JEMARI Sakato (Syafrimet Azis) dan Program Manager  JEMARI sakato (Imran Sarimudanas)

Pernyataan tersebut disampaikan Bambang dalam kegiatan “Workshop Pertemuan Koordinasi, Review PVCA dan Penyusunan Rencana Aksi Komunitas di KeNagarian Canduang Koto Laweh dan Tiku Selatan Kabupaten Agam” yang dilaksanakan oleh JEMARI Sakato Sumatera Barat tanggal 17 – 19 September 2012 di Lawang Park Homestay Nagari Matur.  Kegiatan Workshop ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan dari “Program Replikasi Membangun Ketahanan Masyarakat terhadap Bencana dan Perubahan Iklim” kerjasama JEMARI Sakato Sumatera Barat dan OXFAM Jakarta melalui dukungan pendanaan dari AusAid (Australia). Program ini dilaksanakan di 5 Jorong di Ke-Nagarian Tiku Selatan dan 5 Jorong di Ke-Nagarian Candung Koto Laweh sebagai daerah dampingan dan akan berjalan direncanakan selama lebih kurang 18 bulan ke depan.

Diikuti oleh lebih kurang 40 orang peserta yang terdiri dari Community Organizer (CO) dari 10 Jorong, 10 Wali Jorong, Pemerintahan Nagari  Tiku Selatan dan Canduang Koto laweh serta Perwakilan Camat Tanjung Mutiara dan Candung. Dukungan dari pemerintah Kabupaten Agam terhadap acara ini tidak hanya dalam bentuk pernyataan dukungan Kalak BPBD, tetapi juga diikuti dengan partispasi perwakilan Pemerintah Kabupaten sebagai peserta selama 3 (tiga) hari.

Betapa tidak, setelah acara formal pembukaan, Kalak BPBD dengan semangat keterbukaan menyediakan waktu lebih kurang 2 jam untuk berdialog dengan peserta. Dan kesempatan ini tidak disia-siakan oleh peserta terutama masyarakat untuk menyampaikan aspirasi mereka berkaitan dengan kondisi wilayah Jorong mereka terkait dengan kebencanaan. Dan juga tidak lupa untuk menyampaikan beberapa kebutuhan baik berupa program maupun fisik. Dengan difasilitasi oleh Program Manager dari JEMARI Sakato, Imran Sarimudanas, dialog ini berlangsung hangat, terbuka dan penuh kekeluargaan. Masyarakat dengan karakter kejujuran juga menyampaikan kritikan terhadap kebijakan-kebijakan berkaitan dengan kebencanaan selama ini. Dalam kesempatan ini Kalak juga menyatakan keterbatasan Pemkab dan sangat membutuhkan partisipasi dan dukungan masyarakat untuk memperbaiki kondisi-kondisi tersebut.

Sangat menarik ketika workshop ini diikuti juga secara penuh  oleh 2 orang Staf BPBD dan Perwakilan Bappeda Kabupaten Agam. Hal ini menjadi nilai tersendiri bagi JEMARI Sakato dan masyarakat peserta, karena masyarakat mendapat kesempatan berdialog lebih dalam selama 3 (tiga) hari tersebut dan mendapatkan banyak informasi juga berkaitan dengan proses-proses yang berlaku di bidang pemerintahan terutama berkaitan dengan perencanaan dan penganggaran.

Sesuai dengan harapan telah dilakukan review terhadap hasil pengkajian kerentanan dan kapasitas masyarakat yang telah dilaksanakan sebelumnya oleh para Community Organizer (CO) di masing-masing Jorong.  Dari review dan perbaikan yang dilakukan selama workshop, diharapkan dapat menjadi bahan masukan untuk melakukan analisis terhadap resiko di masing-masing Jorong. Untuk selanjutnya menjadi bahan utama untuk penyusunan Rencana Aksi Masyarakat  terhadap Pengurangan resiko Bencana dan perubahan Iklim.  Disamping pembahasan tentang Rencana Aksi Masyarakat untuk PRB, dalam Workshop ini juga disampaikan beberapa materi terkait dengan penguatan kelompok masyarakat. Hal ini sangat penting karena pelaku di lapangan (Community Organizer/CO) akan berhadapan dengan masyarakat dengan segala karakternya, sehingga para pegiat PRB ini harus menyadari mandat yang diberikan oleh masyarakat kepada mereka. Karena kehadiran mereka sebagai Community Organizer ditunjuk secara partisipatif oleh masyarakat melalui fasilitasi pemerintahan Jorong.

JEMARI Sakato merupakan salah satu LSM/NGO di Sumatera Barat yang fokus pada agenda penguatan untuk perbaikan tata pemerintahan (Good Governance). Keterlibatan JEMARI Sakato dalam program Pengurangan Resiko Bencana/PRB merupakan salah satu mandat lembaga karena PRB merupakan tanggungjawab Pemerintah selaku pemegang kekuasaan serta semua stakeholder lainnnya. JEMARI Sakato berupaya memfasilitasi dialog-dialog multipihak agar isu PRB menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam proses pengambilan kebijakan ditingkat Pemerintah baik Eksekutif maupun Legislatif.

 

(Syafrimet Azis/Direktur Eksekutif JEMARI Sakato).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *