(Sebuah Pengalaman Masyarakat Dari Pengkajian Mata Pencaharian- Program Penguatan Masyarakat Tangguh Bencana Di Nagari Tiku Selatan-Kabupaten Agam )

“Kondisi bangunan tidak layak huni, berlantai tanah, sebagian bangunan rumah dari kayu, dinding rumah banyak yang retak, tidak ada pekerjaan, kondisi fisik lemah, sering sakit, bepergian dengan jalan kaki, anak banyak dititipkan dengan saudara atau orang lain, makan dari saudara atau orang lain, terkadang hidup menumpang, dan tidak punya keahlian

(Hasil pengamatan masyarakat Nagari Tiku Selatan  terhadap keluarga rentan)

 

“Membangun kepedulian” inilah sebuah statement yang tepat untuk memberdayakan masyarakat dalam melihat kondisi lingkungan dimana mereka tinggal. Dalam suatu sesi kegiatan, fasilitator yang berasal dari perwakilan masyarakat ini, bercerita tentang apa yang mereka lihat dan rasakan tentang keluarga rentan. Pada awalnya, mendengar kata “rentan” memberikan perbedaan persepsi bagi setiap orang. Ada yang bilang rentan berarti “tidak berdaya, mudah terkena penyakit, peka ataupun sensitif”. Jika dipasangkan dengan kata keluarga maka arti kata ini akan menjadi keluarga yang tidak berdaya, mudah terkena penyakit, ataupun keluarga yang sensitif. Kemudian jika ditambahkan lagi dengan kata bencana, kata tersebut akan menjadi keluarga rentan, yang berarti mengalami sebuah proses kondisi yang menghambat kapasitas mereka dalam menghadapi dampak bencana. Eksplorasi terhadap pemaknaan kata “keluarga rentan” ini akan menarik bila ditelusuri dari pengalaman masyarakat yang menjadi saksi dalam mengamati bahkan menjadi bahagian dari keluarga rentan tersebut.

Rumah KK Rentan

Sepertinya tidak ada orang yang akan mau tinggal dalam kondisi rentan, namun berbagai kondisi mengharuskan beberapa dari masyarakat di nagari ini untuk tinggal dalam kondisi tersebut.  Dari beberapa cerita fasilitator masyarakat, keluarga rentan itu tinggal di sebuah rumah yang tidak layak huni, terbuat dari kayu, lantainya beralas tanah, dan atapnya terkadang ada yang berlobang sehingga jika hujan, akan mangairi rumah tersebut. Di beberapa sudut bangunan akan terlihat beberapa kayu yang sudah mulai rapuh  dan ditumbuhi dengan beberapa tanaman sejenis lumut. Tanah yang mereka tempati untuk bangunan rumah juga belum memiliki sertifikat, sehingga bagi keluarga nelayan yang ingin mendapatkan bantuan pinjaman modal agak kesulitan dalam mengakses bantuan tersebut.

Kondisi bangunan yang tidak layak ini, ternyata juga berada di daerah yang rawan bencana. Beberapa keluarga yang tinggal di rumah yang permanen terlihat dinding yang retak dan bahagian rumah yang belum diperbaiki akibat gempa bumi tahun 2009. Selain itu, sebagain rumah berada di lokasi yang tidak jauh dari pantai dan daerah banjir. Tidak jarang rumah mereka juga sering terkena abrasi dan atau banjir.

Diskusi dengan KK Rentan

Sebagian besar keluarga yang diceritakan, tidak memiliki struktur angggota keluarga yang utuh. Keluarga ini lebih banyak berkepala keluarga perempuan, atau tidak punya suami, sebagian lagi tidak punya anak, dan ada yang tinggal dengan menantu. Anak-anak mereka lebih banyak berada di rantau dengan alasan merantau adalah pilihan terbaik untuk memperbaiki kelangsungan kehidupan mereka. Selain itu, sebagian dari mereka terkadang juga sengaja menitipkan anak mereka pada saudara atau orang lain dengan alasan ekonomi. Harapanya si Anak mendapatkan kebutuhan hidup yang lebih baik dan mendukung keuangan keluarga mereka di kampung nantinya.

Usaha Pinang

Keluarga ini tidak memiliki mata pencaharian yang tetap, terkadang si Ayah bekerja sebagi buruh nelayan. Namun kondisi cuaca ekstrim yang sering menghambat kelaut, mengharuskan Si Ayah untuk bekerja di tempat lain seperti jasa ojek dengan menggunakan motor kredit, mengambil pinang, ataupun hal lain yang bisa dilakukan untuk bisa memenuhi kebutuhan pokok keluarganya untuk satu hari. Terkadang kondisi ini juga mengharuskan si Ibu untuk membantu keuangan keluarga seperti mencuci baju di rumah orang lain, membuat gorengan, ataupun Maneri (menjemur ikan). Usaha yang mereka lakukan tersebut, masih belum mencukupi kebutuhan keluarga mereka.

Tidak ada yang berbeda dalam siklus kehidupan mereka dengan keluarga yang tidak rentan. Pagi  pukul 05.00 mereka bangun, membantu anak untuk persiapan sekolah, masak, bekerja , istirahat dan pulang. Namun hal yang sedikit berbeda adalah dalam penggunaan jam produktif mereka dalam bekerja, termasuk beragamnya jenis pekerjaan yang mereka lakukan. Jika seorang PNS pukul 08.00 hingga pukul 16.00 berada di kantornya, maka keluarga ini pada pukul tersebut akan berada di beberapa tempat dan melakukan kegiatan ekonomi yang beragam, namun tetap saja hasil yang mereka perloleh tidak akan sebanding dengan seorang PNS. Walaupun jenis kegiatan ekonomi mereka beragam, biasanya keluarga ini memiliki waktu istirahat yang lebih banyak di sela-sela pertukaran kegiatan ekonomi mereka dibandingkan dengan jumlah jam produktifnya dalam bekerja.

Tingkat pendidikan keluarga ini juga tidak begitu baik. Beberapa diantara mereka hanya sampai pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sementara itu anak-anak mereka yang pada umumnya lebih dari 3 orang, hanya berkisar SD hingga SMP dan sebagian tidak sekolah. Hal ini disebabkan karena biaya pendidikan yang mahal dan si anak dapat membantu orang tua dalam pemenuhan kebutuhan hidup keluarga.  Kondisi ini menyebabkan anak-anak mereka tidak punya keahlian apalagi bersaing dalam memperoleh lapangan kerja yang memadai.

Kondisi Interior KK Rentan

Kondisi di dalam rumah keluarga ini juga memprihatinkan, hanya ada peralatan yang seadanya. Biasanya hanya ada satu kamar tidur dan satu ruang lepas, bahkan ada juga sebagian dari mereka yang tidak mempunyai kamar. Kondisi dapur mereka juga tidak begitu baik, hanya ada tumpukan piring dan peralatan lainnya di atas tanah. Rata-rata keluarga dalam kategori ini tidak mempunyai MCK, biasanya mereka lebih senang menggunakan wilayah pantai atau sungai yang dekat dengan posisi rumah mereka. Fasilitas tersedia hanya bersifat standar seperti tikar untuk alas tidur, lemari, dan peralatan untuk kebutuhan makan dan minum. Untuk bepergian biasanya mereka berjalan kaki.  Kondisi yang tidak lebih baik ini menjadikan mereka juga rentan dengan penyakit, beberapa keluarga ada yang terjangkit penyakit Demam Berdarah, Chikungunya, dan TBC.

Dengan kondisi tersebut, keluarga ini berupaya untuk mempertahankan keberlangsungan hidup mereka. Selain dari semua anggota keluarga berkontribusi dalam aktivitas ekonomi, biasanya anak –anak mereka lebih memutuskan untuk pergi merantau atau ikut dengan keluarga lain, bahkan ada juga sebagian dari mereka yang sengaja menitipkan anak mereka pada saudara atau orang lain dengan alasan ekonomi. Harapanya si Anak mendapatkan kebutuhan hidup yang lebih baik dan mendukung keuangan keluarga mereka di kampung nantinya.

Jika diantara anak mereka tidak ada yang mampu untuk merantau dan kondisi orang tua juga tidak memungkinkan untuk bekerja, mereka biasanya akan dibantu oleh salah seorang dari saudara mereka, misalnya menantu. Disini, peran menantu menjadi sangat kuat dalam menjaga kelangsungan hidup mereka. INILAH CARA MEREKA DALAM BERTAHAN HIDUP, MEREKA MELAKUKAN SESUAI DENGAN KAPASITAS YANG MEREKA MILIKI.

(Niko Rinaldi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *