Anak adalah generasi penerus bangsa yang akan menjadi “si pencerita” untuk generasinya tentang bagaimana belajar dan bertahan dari bencana serta beradaptasi terhadap perubahan iklim di zamnnya nanti, dan Mendidik anak agar siaga bencana sejak dini adalah langkah cepat dan tepat untuk menjadi masyarakat yang tangguh terhadap bencana

30 Oktober 2012, di lapangan Mahoni Nagari Tiku Selatan telah dilangsungkan Peringatan Hari Pengurangan Risiko Bencana (PRB), dengan tema “Membudayakan Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim Untuk Masyarakat Nagari Tiku Selatan Yang Berbasis Budaya, Perempuan dan Anak-Anak”.Tema ini muncul dari para pembimbing PAUD di Nagari Tiku Selatan, yang saat itu diinisiasi oleh Ibu Fatmawati dan Saripah Eni. Beliau adalah para penggerak PAUD di Nagari yang juga berkecimpung sebagai Community Organizer dan penggerak pemerintahan Jorong di Nagari Tiku Selatan.

Pada prinsipnya kontribusi anak dalam ke-giatan PRB ini, merupakan sebuah kapasitas yang harus ditonjolkan dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana. Hal ini juga seiring dengan amanah dari Prioritas 3 HFA yang menyatakan bahwa Perlunya untuk menggunakan pengetahuan, inovasi, dan pendidikan untuk membangun budaya ketahanan masyarakat di tingkatan anak-anak. Mengajak anak usia dini untuk terlibat dalam proses ini memang sedikit menguras tenaga, karena sangat diperlukan sebuah metode yang kreatif dan inovatif untuk menciptakan sebuah pembelajaran PRB yang melekat dalam sebuah kebiasaan mereka dalam bersikap dan berfikir. Namun buah yang dihasilkan dari sebuah proses tersebut tidak akan sebanding dengan usaha yang dikeluarkan, karena mereka adalah generasi penerus yang akan menjadi “si pencerita” keberlanjutan dari upaya PRB di daerah mereka.

Pola pikir ini menjadi sebuah prakarsa bagi para pembimbing PAUD untuk mengadakan sebuah panggung gembira yang mengambil tema “PRB di Sekolah PAUD” ini. Ada 4 (empat) tema utama yang mereka tetapkan yaitu : Penanggulangan Kebakaran, upaya penyelamatan dari gempa, upaya penyelamatan anak dari gempa dan tsunami, serta menyongsong semangat sehat bugar dalam mengurangi risiko bencana. Lima TK PAUD yang ada di Nagari Tiku Selatan, yang berjumlah 66 anak PAUD (33 Laki-laki dan 33 Perempuan) ikut andil dalam kegiatan ini.

Pada Pukul 10.30 WIB 5 TK/PAUD mulai menunjukkan aksinya di depan 134 warga Tiku yang hadir pada saat itu, termasuk Kepala Pelaksana BPBD Agam, BAPPEDA  dan Camat Tanjung Mutiara. Panggung Drama pertama ditampilkan oleh PAUD Jorong Kampuang Darek, dengan tema kebakaran. Dengan menggunakan media kardus yang dibakar, 4 ember yang diisi air dan satu mobil anak-anak yang dilengkapi dengan slang sebagai mobil kebakaran digunakan oleh 12 anak dengan gembira dan sepenuh hati untuk melakukan simulasi kebakaran saat itu. Pesan-pesan untuk mengurangi risiko kebakaran yang memang menjadi salah satu ancaman di Nagari itu mulai tersampaikan dalam proses drama tersebut.

Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan senam ala anak TK/PAUD Gasan Kaciak yang mengambil tema menyongsong semangat sehat bugar dalam mengurangi risiko bencana. Sekitar 10 anak TK/PAUD Gasan Kaciak terlihat asik memainkan tangan, kaki dan kepala mereka dalam setiap ketukan senam dan irama yang muncul dari alunan musik senam anak PAUD. Kegembiraan terlihat pada saat itu, gelak tawa dan kebanyolan anak-anak menambah hiruk pikuk penonton. Pesan yang disampaikan saat itu melalui Narator bahwa untuk menguatkan pendidikan PRB pada anak tidak hanya cukup dengan pendidikan dan pengetahuan saja, tetapi juga dengan jasmani yang sehat. Kemudian aksi pun dilanjutkan dengan penampilan dari TK/PAUD Banda Gadang dan Pasa yang menampilkan drama gempa dan tsunami. Dramatisasi ini dimulai dengan menunjukkan proses belajar anak PAUD, yang mengajarkan anak tentang upaya pengurangan risiko bencana di kelas.

Sementara proses belajar mengajar berlangsung, sirine pertanda ancaman tsunami pun terdengar, guru dan anak PAUD pun bergegas melakukan upaya penyelamatan di kelas, hingga melakukan simulasi penyelamatam. Dalam proses evakuasi terlihat bagaimana jiwa pembimbing PAUD masih terpapar, bagaimana cara mereka mengarahkan anak PAUD dengan nyanyian dan nada yang halus untuk melakukan upaya penyelamatan. Sesampai di tempat evakusi guru tetap mengajak anak  bernyanyi dan bermain untuk menghilangkan kekhawatiran mereka dan akhirnya drama ditutup dengan lagu “Kalau ada Gempa” secara bersama.

Kegiatan ini memberikan sebuah pesan PRB kepada masyarakat dan anak-anak khususnya. Pola pengurangan risiko bencana sejak dini menjadi sebuah keharusan bagi daerah yang rawan bencana. Mendidik anak menjadi anak yang siaga bencana harus diintegrasikan dalam sebuah pola pembelajaran kretaivitas yang mampu untuk membaca pola bersikap, berfikir dan bertindak anak, artinya Pendidikan PRB kepada anak tidak harus dengan memberikan cerita-cerita tentang dampak bencana yang mengerikan, tetapi dengan menanamkan jiwa peduli kepada lingkungan melalui media-media yang sesuai dengan minat dan bakat mereka. Konseptual untuk pengembangan pola anak usia dini ini dalam pendidikan dan pengetahuan bencana, harus memunculkan karakter dan budaya siaga bencana melalui media kreativitas anak.

 

(Niko Rinaldi/Field Officer JEMARI Sakato)

One Reply to “Kreatifitas Dan Pendidikan PRB Bagi Anak Sekolah Usia Dini”

  1. Apakah pendidikan PRB ini sudah diberikan dan diterapkan oleh semua lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia atau hanya lembaga pendidikan di daerah rawan bencana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *