(Focus Group Discussion)

Penyusunan dokumen Tataruang Nagari dan Pemetaan Nagari adalah salah satu kegiatan yang sedang dilakukan oleh Nagari Kapau yang didampingi oleh LSM JEMARI Sakato Sumatera Barat. Kegiatan ini di lakukan di Nagari Kapau Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam yang telah dimulai dari bulan Juli tahun 2018. Kegiatan dikerjakan oleh 5 orang, Dilla Ulfa Desma sebagai Task Manager Program, Syofia Yenti, Lia Indra Mayu, Anggun Mustika Yanti dan Rahmad Ramadhan sebagai Anggota Tim. Penyusunan dokumen tataruang dan pemetaan nagari ini dilakukan dalam beberapa tahap yaitu, sosialisasi, survey lapangan, pengolahan data, FGD di setiap jorong, penyusunan dokumen dan pembuatan peta serta lokakarya tingkat nagari.

Setelah dilakukan tahapan survey lapangan dan analisis pengolahan data, maka tahap selanjutnya adalah Focus Group Discussion. Maksud dari kegiatan FGD ini adalah untuk menggali informasi terkait dengan kondisi Jorong berdasarkan kondisi eksisiting. Adapun jenis informasi yang diharapkan dari proses FGD ini antara lain: permasalahan jorong, potensi jorong dan strategi dalam perencanaan pembangunan melalui dokumen Tataruang. Untuk mendapatkan informasi yang akurat maka proses FGD melibatkan Jorong, Niniak Mamak di setiap Jorong, Ketua Pemuda setiap Jorong, serta perwakilan dari masyarakat, dll. 

Kegiatan FGD akan dilaksanakan di 12 Jorong di Nagari Kapau yaitu Pandan Banyak, Induring, Padang Cantiang, Cingkariang, Parak Maru, Koto Panjang, Koto Panjang Hilir Cubadak, Korong Tabik, Koto Panalok, Ladang Laweh, dan Dangkek Paninjauan. Kegiatan ini melibatkan Pemangku Kebijakan Nagari  termasuk perangkat Nagari, tokoh masyarakat, BAMUS, serta perwakilan  terpilih dari masyarakart yang di undang oleh Kepala Jorong masing-masing.

Salah satu hal menarik yang ditemukan ketika FGD yaitu adanya perbedaan kondisi eksisting lahan di setiap Jorong. Contohnya ada beberapa Jorong yang mempunyai lahan perkebunan dan ada yang tidak. Secara garis besar lahan yang dominan di Nagari Kapau yaitu lahan pertanian lahan basah atau sawah. Sehingga hasil pertanian yang paling dominan yaitu padi, disamping itu juga ada cabe dan jagung serta komoditi lainnya. Selain kondisi eksisting penggunaan lahan, hal yang penting untuk dibahas ketika FGD yaitu sistem penerangan jalan. Penerangan jalan di setiap Jorong mempunyai masalahnya tersendiri seperti di Jorong Induring, permasalahan penerangan jalannya yaitu terkendalam dalam biaya, dimana pembiayaan lampu  menggunakan voucher, ketika voucher habis maka lampu jalan akan otomatis mati dan untuk mengisi ulang voucher tersebut terkendala dalam pengumpulan dananya. Lain halnya dengan yang terjadi di Parak Maru, pembayaran lampu jalan didapat dari hasil sumbangan wajib setiap warga senilai 1000/orang dalam satu bulan. Sehingga pembiayaan lampu tidak terkendala. Selain masalah pembiayaan, jumlah lampu jalan di Kapau bisa dikatakan kurang memenuhi, sehingga diperlukan tambahan lampu jalan di beberapa Jorong.

Penulis : Dilla Ulfa Desma dan Rahmad Ramadhan
Editor : Yunita Rahmi. R

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *