(14 Juli 2004 – 14 Juli 2018)
A journey of a thousand miles begins with a single step (Lao Tzu)

Ungkapan diatas jika dianalogikan ke dalam kehidupan sehari-hari memberikan gambaran kepada kita bahwa setiap tahapan besar ataupun keberhasilan pada dasarnya selalu dimulai dari sebuah langkah kecil. 14 Juli 2004, tepatnya 14 tahun yang lalu di Lambah Harau Kabupaten Limapuluh Kota, sekumpulan pegiat partisipasi dan pemberdayaan mencetuskan ide kecil tentang perlunya sebuah wadah yang dapat memperjuangkan nilai-nilai partisipasi agar berpengaruh besar dalam mencapai tata kelola pemerintahan yang baik (Good Governance). Ide kecil dari sekelompok kecil orang-orang peduli ini selanjutnya berkembang dan bermetamorfosa menjadi “tahapan mimpi” yang secara sistemastis pada akhirnya melahirkan sebuah wadah yang bernama JEMARI (Jaringan Kerja Pengembang Partisipasi Indonesia). JEMARI pada awalnya digagas di 7 Propinsi di Indonesia yaitu Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Papua dan Irian Jaya. Inilah peristiwa yang menandai lahirnya JEMARI Sakato Sumatera Barat, dimana para pendirinya sepakat untuk bernaung atas nama sebuah Perkumpulan.

JEMARI Sakato telah melewati jalan yang cukup panjang sebagai sebuah NGO yang fokus dengan isu Good Governance. Sebuah terminologi yang pada dasarnya jika di artikan secara sederhana adalah sebuah kondisi dimana semua komponen yang memiliki kepentingan dengan upaya pencapaian kesejahteraan masyarakat bersinergi positif dan bergerak sesuai dengan tugas dan fungsinya. Selama kurun waktu 14 tahun JEMARI Sakato telah mengalami dinamika internal dan eksternal yang sangat luar biasa untuk bisa terlibat dalam isu ini.

Sebagai lembaga nirlaba, tentunya JEMARI Sakato sangat bergantung dengan kemampuan para aktivisnya untuk bergerak dan mendapatkan pekerjaan-pekerjaan yang dapat menopang keberlangsungan lembaga. Hal yang sangat mendukung keberlangsungan JEMARI Sakato adalah kompetensi yang dimiliki. Karena sebagian besar para pendiri memiliki latar belakang dan pengalaman kerja dengan isu Governance, secara sadar lembaga ini diarahkan untuk menjadi ahli di bidang ini. Para pendiri mendorong lembaga ini ke dalam 4 kompetensi yang harus dikuasai oleh para aktivisnya yaitu (1) Kemampuan melakukan Riset Aksi dan Fasilitasi Menuju Tata Pemerintahan yang Lebih baik termasuk advokasi perencanaan dan penganggaran daerah yang terintegrasi, (2) Advokasi kebijakan dan anggaran yang berkeadilan, (3) Monitoring dan evaluasi program /kebijakan bagi Perbaikan Pelayanan Publik dan (4) Pengembangan Metodologi Fasilitasi yang Efektif, Interaktif dan Partisipatif.

Kompetensi yang 4 ini selanjutnya menjadi senjata utama para aktivis JEMARI Sakato dalam melaksanakan program pendampingan yang dijalankan. JEMARI Sakato telah bekerja dengan semua komponen dan berbagai level pemerintahan. Proses pendampingan JEMARI Sakato dilakukan dengan berbagai metodologi. Karena menjadikan isu Good Governance sebagai core lembaga, maka para aktivis JEMARI Sakato wajib memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan berbagai pihak terutama kalangan birokrasi dan Legislatif. JEMARI Sakato memiliki alasan tersendiri dengan hal ini, karena bahwa dalam praktek pembangunan di segala level pemerintahan, pihak pemerintah (baca: eksekutif dan Legislatif) memiliki kewenangan yang sangat kuat. Dan sebagian besarnya dilegitimasi oleh aturan dan regulasi yang lahir. Dan umumnya, kewenangan yang kuat itu, berimplikasi kepada penurunan atau berkurangnya peranan pihak lain (masyarakat maupun Civil society).

jemari sakato khairul fahmiDalam perjalanan usia 14 tahun, JEMARI Sakato selalu mencoba mengambil peran untuk mengisi kekosongan (gap) yang “tidak mampu” atau “tidak sempat” atau “tidak mau” diisi dan dilakukan oleh pihak pemerintah. Peran ini pun berjalan dengan dukungan yang sangat beragam. Sebagian besar daerah, program JEMARI mendapat atensi dan apresiasi dari para penguasa. Meskipun dengan kadar yang sangat beragam, JEMARI Sakato telah mampu melakukan perubahan-perubahan kecil di daerah dampingan .

Namun demikian, tak ada gading yang tak retak. Aktifitas JEMARI Sakato juga diwarnai dengan persoalan-persoalan internal dan eksternal. Krisis keuangan, kehilangan sumber daya manusia potensial, ketidakpercayaan dari dalam maupun luar, kadang hanya mengandalkan pembiayaan luar/donor dan lain-lain. Dan tentunya juga dinamika di luar lembaga ikut mempengaruhi perjalannnya. Jatuh bangun juga ditandai dengan sempat mati surinya lembaga ini dalam kurun tahun 2008-2009. Momentum Gempa 30 September 2009, menjadi salah satu “external factor” yang mempengaruhi nafas JEMARI Sakato di Sumatera Barat. Meskipun saat itu dimandatkan mengelola isu Pengurangan Resiko Bencana, namun dengan menggunakan pendekatan yang berbeda, program didorong ke upaya pencapaian Good Governance dan tetap fokus dengan melakukan Advokasi Kebijakan Publik. Dan momentum inilah yang setidaknya mampu dikemas oleh para aktivis JEMARI Sakato dengan tetap mengandalkan 4 kompetensi dasar tersebut. Dan ini memberikan dampak positif dan mampu membesarkan lembaga kembali.

JEMARI Sakato telah mengembangkan pengetahuan, praktek baik dan advokasi berbasis bukti untuk pengembangan ketangguhan masyarakat dan penghidupan berkelanjutan di beberapa Kabupaten dan Kota Sumatra Barat. Berbagai pihak baik dalam maupun luar negeri, pemerintah, DPRD, sektor swasta, perguruan tinggi dan organisasi masyarakat sipil telah bekerjasama secara produktif untuk meningkatkan pengaruh warga dalam perbaikan pelayanan, ketangguhan dan penghidupan berkelanjutan. Nilai nilai yang dikembangkan oleh JEMARI Sakato, Solidaritas, Apresiatif, Kesetaraan, Akuntabel, Transparan, dan Otonom (SAKATO) menjadi koridor untuk mewujudkan masyarakat yang lebih baik.

Pengembangan praktek baik terus dilakukan, mendorong perluasan dan internalisasi pada tingkat pemerintahan nagari, kabupaten dan provinsi. Pada level nagari dikembangkan konsep satu data, satu peta dan pengaduan. Pada level kabupaten dilakukan advokasi kebijakan (perencanaan dan penganggaran) dengan mengawal melalui pendampingan, monitoring dan evaluasi yang partisipatif serta pertemuan multipihak. Pengembangan juga dilakukan melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi untuk menciptakan lebih banyak orang terpapar dengan pengembangan ketangguhan dan diharapkan mampu meningkatkan pengaruh warga dan perluasan pada kawasan yang lain.

Momentum 14 (empat belas) tahun, JEMARI Sakato mengajak untuk saling berbagi pengetahuan dan praktek baik serta meningkatkan pengaruh warga dalam perbaikan pelayanan publik. Gagasan ini dikemas dengan tema; “Mengubah Pengetahuan ke dalam Praktek dan Kebijakan untuk Meningkatkan Kualitas Pelayan Publik

“Happy Milad JEMARI Sakato”

FOR BETTER SOCIETY
Syafrimet Azis/Nuwirman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *