Tepatnya pada Selasa (27/09/2016) pekan lalu, JEMARI Sakato telah mengangkat sebuah diskusi terbuka. Dengan topik “Meneropong Implementasi UU Nomor 06 Tahun 2014 Tentang Desa” yang dilaksanakan di gedung Imam Bonjol LPMP, Padang.
diskusi-uu-desa

Diskusi yang mengambil tema besar mengenai UU Desa ini, berangkat dari rasa kegelisahan serta kepedulian JEMARI Sakato sendiri maupun masyarakat terkait efektifitas UU Desa setelah digulirkan. Karena pada kenyataanya di lapangan, UU tersebut belum menunjukkan sebuah perubahan yang cukup signifikan.

Dalam beberapa kasus, UU Desa telah lama mengundang banyak polemik. Padahal pada substansinya, UU Desa sendiri merupakan stimulus untuk membuat Desa lebih bergairah dalam melakukan pembangunan. Oleh karena itu, UU Desa sendiri mengamanatkan terciptanya Desa yang mandiri.

Secara teknis, UU Desa telah mengatur jelas bagaimana Road Map kedepan. Namun pada praktiknya, UU Desanya dipahami dengan seksama. Realitasnya, banyak warga desa sendiri yang tidak peduli dengan UU Desa, bisa jadi pula kepedulian tersebut tidak timbul karena kurangnya sosialisasi dari Pemerintah melalui aparatur desa sendiri, sehingga masyarakat kurang antusias untuk berpartisipasi. Selain itu, banyak kepala desa/ wali nagari yang takut dalam menggunakan uang dari dana desa menjadi salah satu penyebab mengapa pembangunan berjalan lamban.

Dalam diskusi Meneropong UU Desa, Budi Febriandi mengatakan bahwa jika UU Desa betul-betul dielaborasi dengan baik. Maka lima sampai sepuluh tahun kedepan akan lahir Brunei-Brunei kecil atau pun Singapura-Singapura kecil di Indonesia. Menjadikan desa sebagai sektor ekonomi unggulan, adalah wujud nyata dari komitmen Pemerintah Pusat yakni membangun Indonesia dari pinggiran.

Selain itu pula, Erigas Eka Putra menegaskan bahwa untuk mencapai kesuksesan dari UU Desa sendiri. Maka yang utama adalah kita harus melupakan segala bentuk konflik, dan fokus untuk membangun desa mandiri. Perubahan paradigma pembangunan yang dulunya “Membangun Desa” kini menjadi “Desa Membangun”, yang artinya bahwa pembangun desa dimulai dari desa itu sendiri, tanpa adanya intervensi dari Pemerintahan yang lebih tinggi.

Setelah berdiskusi cukup panjang dan tentunya sangat menarik, JEMARI Sakato berserta seluruh hadirin merancang Rencana Tindak Lanjut (RTL) dari diskusi ini. Tentunya ini merupakan upaya agar diskusi yang cukup menarik mengenai UU Desa ini tidak habis begitu saja, inilah salah satu ciri khas JEMARI Sakato dalam melakukan aksinya.

Salah satu tindakan, yang akan dilanjutkan pasca diskusi UU Desa yakni kegiatan “BATANDANG” berupa silahturahmi membangun nagari. Acara tersebut akan dilaksanakan di Sekretariat Intelektual Nagari, kenagarian Padang Laweh, kecamatan Sungai Pua, Kabupaten Agam Sumatera Barat pada Jumat, 7 Oktober 2016. Bersama JEMARI Sakato sendiri, Nagari Development Center (NDC) yang diketua Erigas Eka Putra, Handria Asmi Camat Sungai Pua, dan Hendry Mangkuto Alam selaku Walinagari Padang Laweh. Ayo Bangun Nagari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *