By : Niko Rinaldi
(Field Officer-JEMARI Sakato)

Kelompok Siaga Bencana merupakan suatu hubungan interaksi sosial yang harus dibangun dengan sistem yang partisipatif, mengedepankan prinsip keterbukaan, tanggung jawab , memperhatikan kapabilitas individu dalam pembagian peran, dan dikolaborasi dengan budaya lokal yang menjadi nyawa masyarakat dalam Pengurangan Risiko Bencana
(Niko Rinaldi, : Hasil pembelajaran kegiatan Pendampingan JEMARI Sakato, 2012 di Kabupaten Agam)

Berbicara mengenai Kelompok Siaga Bencana ini, bisa ditelusuri dalam perkembangan kelembagaan di tingkat Komunitas pada dua daerah Dampingan yaitu Nagari Canduang Koto Laweh dan Nagari Tiku Selatan. Nagari Tiku Selatan ,yang memiliki banyak intervensi dari Lembaga luar, menjadikannya sebagai daerah pilot project untuk pembentukan Kelompok siaga bencana Dengan kata lain, sebelum program ini berjalan, daerah ini telah memiliki kelompok siaga bencana yang beranggotakan 16 orang di setiap jorong. Pertanyaanya sekarang adalah bagaimana dengan substansi kelompok, yang terkait dengan peran, struktur dan terutama dengan Komitmen mereka untuk menjadi relawan dalam Kelompok Siaga Bencana. Berdasarkan hasil dialog dengan beberapa orang Komunitas dan Perangkat Nagari, ternyata ini memang menjadi sebuah dilema di Nagari ini dan menurut mereka masih perlu dilakukan penguatan-penguatan bagi KSB ini, agar bisa mandiri dan terstruktur di kelembagaan Nagari dan Jorong.
Problema ini tentu membutuhkan sebuah langkah strategis untuk membangun sebuah kelompok siaga bencana. Pengalaman bencana yang sering terjadi akhir-akhir ini seperti Tsunami Aceh, Gempa Nias, Tsunami Mentawai, gunung meletus di Sleman Yogyakarta, telah menyampaikan pesan alam untuk mengarusutamakan keberadaan kelompok ini di setiap daerah. Kelompok ini akan berperan penting dalam membangun budaya siaga bencana di daerahnya. Sistem sosial budaya yang terbangun dan tertanam dalam tatanan \kemasyarakatan menjadi suatu hal yang harus diperhatikan dalam membangun kelompok ini.
Untuk menyusun sebuah langkah strategis tersebut, maka dilakukan penguatan KSB yang berorientasi pada pendekatan psiko sosial dan teknis kegiatan KSB. Kegiatan pertama dilakukan pada tanggal 20 Desember 2012, yang diikuti oleh 21 Orang peserta yang terdiri dari Community Organizer, Kelompok Siaga Bencana dan Forum PRB nagari, dan Kelompok Siaga Bencana Kota Padang. Kehadiran KSB Kota Padang ini merupakan sebagai media motivasi bagi KSB Tiku melalui cerita sukses KSB yang telah dilakukan oleh KSB Air Manis. perbandingan Laki-laki dan perempuan pada kegiatan ini adalah 11 dan 10 orang. Ada 3 materi penguatan yang dilakukan yaitu identifikasi masalah, penggalian solusi, pembagian peran dan berbagi cerita sukses.

Identifikasi Masalah
Proses pembagian masalah pada saat itu diawali dengan melakukan “Brainstorming” terkait pengelolaan KSB yang telah dilakukan, Kemudian dilakukan pengidentifikasian masalah dengan menggunakan “pohon masalah. Dari proses yang dilakukan, maka terlihat bentuk klasifikasi akar masalah seperti berikut :

1

Pada bagan masalah tersebut terlihat bahwa masalah prioritas dalam pembentukan KSB terkait erat dengan partisipasi masyarakat dalam mengikuti kegiatan-kegiatan KSB. Sikap pasrah dan kurang peduli dengan kegiatan kebencanaan menjadi pemicu dalam permasalahan partisipasi ini, ditambah dengan masih minimnya pengetahuan masyarakat terhadp KSB tersebut. Sikap kurang berpartisipasinya masyarakat juga diakibatkan oleh tingkat kemiskinan yang tinggi. Hal ini tidak bisa dipungkiri bahwa kepentingan perekonomian menjadi pilihan mereka daripada harus mengikuti kegiatan-kegiatan yang menyita waktu mereka dalam mencari penghidupan. Sehingga hal yang muncul pada setiap kegiatan adalah permintaan penggantian transport untuk mengganti nilai kegiatan ekonomi yang mereka lakukan.
MENGGALI SOLUSI DARI PERMASALAH KELOMPOK

Untuk meminimalisir permasalahan yang telah diidentifikasi sebelumnya maka hal utama yang harus dilakukan adalah memancing partisipasi masyarakat dalam kegiatan PRB, dengan melakukan beberapa hal berikut :
1.Mengadakan sosialisasi secara menyeluruh di tingkat jorong
2.Mengadakan kegiatan “aksi PRB” oleh KSB dan CO yang dilihat oleh masyarakat banyak
3.Melibatkan peran 4 tokoh adat di dalam KSB
4.Mendukung kegiatan perekonomian masyarakat

2

BERBAGI CERITA SUKSES: STRATEGI MEMOTIVASI KELOMPOK

Kegiatan ini juga dirancang untuk memotivasi KSB tiku Selatan dalam melakukan Rencana Aksi Masyarakat. KSB Air Manis yang dalam hal ini bertindak sebagai si pembagi cerita, telah memiliki penglaman ber-KSB dalam waktu 3 tahun, yang juga pernah didampingi oleh JEMARI sakato.

KSB Air Manis ini diwakili oleh 2 orang perempuan yaitu Vita dan Rosi. Sesuai dengan jabatannya Bidang Komunikasi dan hubungan luar, mereka jelas diutus oleh KSBnya untuk melakukan hubungan dengan KSB atau pihak lainnya di luar daerah mereka.

Selama proses berlangsung, Vita yang bertindak sebagai juru KSB menyampaikan hal berikut :

1.KSB Air Manis juga merupakan KSB binaan JEMARI Sakato. Pada awalnya proses berkelompok untuk membangun KSB ini memang sulit, karena kurangnya pemahaman dan partisipasi masyarakat untuk berorganisasi.

2.Dalam perjalanan KSB, Bongkar pasang, bukanlah suatu hal yang menakutkan karena itu biasa terjadi dimana saja. Bayangkan saja pada kurun waktu tertentu tidak cukup sepuluh orang dari kami yang bertahan di KSB. Namun dari permasalahan tersebut kami tidak mundur, kami mencoba memberikan kegiatan-kegiatan nyata untuk masyarakat seperti Goro bersama membersihkan jalur evakuasi, melakukan aksi memberikan bantuan untuk bencana banjir Bandang pesisir Selatan, pembuatan proposal untuk pembuatan jalur evakuasi dan saat ini sudah terlaksana. Dari kesuksesan kegiatan tersebut, maka keanggotaan KSB semakin aktif dan semakin banyak yang berminat untuk menjadi KSB, saat ini ada sekitar 20 orang yang aktif di KSB ini.

3.Selain itu untuk meningkatkan perekonomian dan kemandirian KSB, kami juga menjalankan kegiatan seperti pembuatan Cendramata dari hasil laut. Kegiatan ini juga merupakan ide dari KSB. Sebelumnya kami dengan JEMARI telah dipertemukan dengan Dinas-dinas terkait. Hal ini kami gunakan sebagai media kerjasama untuk membangun kemandirian KSB, sehingga kami mendapatkan bantuan untuk pengembangan kegaiatan cendramata di Air Manis. Kemudian kami juga mendapatkan bantuan pengadaan air bersih oleh MercyCorps dan JEMARI Sakato. Untuk perawatan kami memungut 20.000 rupiah kepada masyarakat yang mengaliri air ke dalam rumahnya. Pungutan ini kami bagi dua yaitu untuk Biaya perawatan dan Kas KSB untuk persiapan.

4.Untuk penguatan KSB, kami juga menyertakan banyak pemuda dalam hal ini, karena mereka secara fisik, jika terjadi bencana lebih mampu untuk menolong masyarakat.

Beriku Kutipan Pandangan Partisipasi Masyarakat dari KSB: (Vita)

Masalah partisipasi masyarakat, memang menjadi masalah utama bagi kami, karena masyarakat banyak yang sibuk dengan kegiatan ekonomi. Namun kami dari KSB tidak putus asa, kami mencoba melakukan kampanye kepada masyarakat dengan cara membagikan peta evakuasi dan stiker rumah siaga bencana. Kami tidak hanya membagikan tetapi juga menjelaskan tentang kesiapsiagaan masyarakat. Selain itu juga dibuktikan dengan hasil kegiatan KSB seperti pembersihan jalur evakuasi, pemasangan tanda jalur evakuasi, dan pembangunan air bersih dengan dana bantuan.
Untuk jalur evakuasi kami di air Manis memiliki 6 titik evakuasi. Semuanya sudah ada jalurnya yang dibuat dalam bentuk tangga. Posisi bukit kami dengan pantai tidak begitu jauh, hanya butuh waktu 5 menit untuk mencapai titik evakuasi. Dalam melakukan hubungan pemerintah daerah swasta, pada awalnya kami didampingi oleh JEMARI Sakato. Kami dipertemukan dengan semua Dinas dan pihak swasta. Sejak pertemuan itu, kami mencoba melakukan hubungan kerjasama dengan mereka dengan cara membuat proposal untuk program-program kesiapsiagaan . Kegiatan – kegiatan lainnya seperti pelatihan pembuatan Biogas dengan Field Bumi Ceria,dan memberikan bantuan untuk korban bencana Pesisir. Untuk Bantuan ini, kami memungut sumbangan kepada para pengunjung pantai Air Manis ada sekitar 2 Juta rupiah yang terkumpul saat itu, dan kami membelikannya ke peralatan mandi.

Setelah sesi diskusi di tutup, maka proses berbagi cerita ini tidak habis begitu saja, banyak KSB dari Tiku, terutama yang perempuan tetap di tempat untuk menggali pengalaman-pengalaman di KB Air Manis. Hasil kesepakatan yang muncul saat itu adalah KSB Tiku Selatan akan melakukan studi Banding ke Air Manis untuk memperdalam pengetahaun mereka tentang KSB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *