Apa yang ada di dalam benak masyarakat desa atau Nagari, pasti tidak akan lepas dari masalah ekonomi. Sederhananya, masyarakat akan selalu berfikir bagaimana cara mereka bertahan hidup dan terus melangsungkan kehidupannya dengan baik serta berfikir bagaimana anak cucunya kelak mendapatkan kehidupan yang layak dikemudian hari. Artinya, masyarakat akan selalu fokus kepada ekonomi, oleh karena itu terkadang membicarakan hal-hal yang berbau politik dianggap tabu. Padahal bicara politik sejatinya adalah bicara tentang mengatur kehidupan sehingga kehidupan akan menjadi lebih baik.
Didasari oleh kepekaan terhadap lingkungan masyarakat yang rentan terhadap bencana, serta kesadaran bahwa akibat dari bencana akan berdampak kepada sektor ekonomi, maka JEMARI Sakato punya cara jitu untuk membantu masyarakat keluar dari kerentanan terhadap bencana.
Dalam program “Memperkuat Ketahanan Masyarakat di Daerah Rawan Bencana”, JEMARI Sakato juga memfokuskan urusan livelihood sebagai salah satu indikator yang harus dicapai menuju sebuah ketangguhan, selain memperkuat kapasitas masyarakat seperti pengetahuan seputar kebencanaan, mekanisme penanggulangan bencana, dan lain sebagainya.
Tidak butuh waktu yang lama. Akhirnya beberapa masyarakat yang di dampingi JEMARI Sakato dalam hal penguatan ekonomi, sudah mulai memperlihatkan perkembangan yang luar biasa. Sebut saja salah satunya ibu yasni, seorang janda yang bermukim di jorong Gasan Kaciak Nagari Tiku Selatan, telah memperlihatkan perkembangan ekonomi yang cukup signifikan, dimana awalnya ibu yasni mampu mendapatkan hanya Rp.20 ribu/hari, kini ibu yasni mampu mendapatkan perharinya antara Rp.50 –Rp 100 ribu/hari. Selain itu ibu yasni telah memiliki tabungan siaga bencana dengan nominal di atas satu juta rupiah.
Tentu ini adalah perkembangan yang cukup menggembirakan, dimana ibu yasni mampu meningkatkan pendapatan rumah tangga berkali-kali lipat dari pada sebelumnya. Selain itu ibu Roslaili, seorang pedagang kue yang kini mampu mendapatkan penghasilan sekitar Rp.100-Rp.150 ribu/hari, dan memiliki tabungan diatas 5 juta rupiah.
Namun JEMARI Sakato tidak mau berhenti sampai disitu, tentu keinginan besar adalah dimana 10 orang yang dipilih berdasarkan hasil pendampingan atau tren kenaikan jumlah pendapatan, nanti akan mampu membantu masyarakat disekitarnya sehingga contoh yang baik bagi masyarkat Tiku Selatan, bahkan program ini telah dijadikan salah satu rujukan Asia melalui OXFAM sebagai salah satu program penguatan ketahanan masyarakat di daerah rawan bencana berbasis livelihood.
Dalam diskusi yang diadakan JEMARI Sakato beberapa hari yang lalu, JEMARI Sakato mencoba menggali lebih dalam apa yang dirasakan oleh beberapa masyarakat dampingan JEMARI Sakato yang luar baisa. Setelah menggali cukup dalam akhirnya strategi menuju ketangguhan ekonomi disepakati. Semoga nantinya kemandirian ekonomi akan terwujud, hal ini sejalan dengan tugas BPBD yang bicara tentang pola penguatan ekonomi masyarakat sehingga mengurangi kerentanan terhadap bencana. Sepuluh orang yang akan menjadi model penguatan ekonomi masyarakat itu adalah Sarinayan, Yasni, Roslaili, Sastrianita, Yuliana, Juliana, Anzar, Kamardi, Nurhayati, dan Sahrel. Sepuluh orang ini patut kita apresiasi, dan inilah sepuluh orang sukses asal Nagari di pesisir Kabupaten Agam. Kini kami menyebut mereka, 10 orang sukses asal Tiku Selatan. (For Better Society)

14045811_1433130723370089_1956568461375151711_n

Oleh : Delly Ferdian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *